If The World Ends Today: Don't Let Go. Anaxtasia.
“Apakah tidak ada di antara orang-orangmu yang ahli dalam es juga? Apakah kau benar-benar yang satu-satunya?”
“Kau datang untuk meminta bantuan padaku, orang-orangku tak ada hubungannya dalam pembicaraan kita.”
“Targetnya di sini adalah kau! Tidakkah kau mendengarkanku!?”
“Bukankah ini berarti masalahku?”
“Kau-!”
Nagao Kei tak suka cara berpikir dan idealis Tsukihana Aoyuki, seorang permaisuri yang kaku, dingin, dan memaksakan diri. Idealisnya yang membuatnya melukai dirinya sendiri pun kerap disalahpahami, karena ia yang tak banyak berekspresi dan hanya membuka diri sebatas permukaan pada orang lain.
Ia tak habis pikir manusia macam apa yang mampu dan mau menahan diri dan bahkan menumpuk emosi dalam waktu yang tak diketahui. Membuat Kei marah dan kesal sendiri.
Tsukihana Aoyuki tak suka ambisi Nagao Kei, seorang pengusir setan dengan sejuta ekspresi dan canda tawa untuk pekerjaannya yang penuh rintangan dan bahaya untuk dirinya dan orang lain. Maka dari itulah ia tak pernah mau gagal dalam menjalankan misi. Entah karena benar peduli atau agar tak merasakan sakitnya kehilangan dan bersalah jika korban jiwa terjadi.
Ia enggan untuk mengerti orang-orang yang memilih jalan sulit untuk dirinya sendiri. Membuat Aoyuki kesal dan kecewa sendiri.
Kei meninggalkan ruangan dengan kekesalan, enggan melanjutkan diskusi dengan wanita keras kepala yang dikhawatirkannya.
Sementara Aoyuki masih tetap duduk dalam diam, melihat Kei yang meninggalkan ruangan sembari memikirkan bagaimana ia tak menggagalkan misi bantuannya.
Kaida Haru dan Genzuki Tojiro memandang satu sama lain dengan ekspresi yang sama-sama tidak enak di wajah masing-masing.
“Sekarang bagaimana?” ucap Haru setengah berbisik.
Genzuki hanya menghela napas. “Tak ada cara lain, kita tunda saja diskusi ini terlebih dahulu.”
Haru mengangguk.
” ... Kuharap tak terjadi sesuatu yang buruk.”
Sudah sekitar dua setengah jam Kei keluar dan menjauh dari kastil es Aoyuki. Menenangkan pikiran dan perasaannya yang campur aduk dari argumennya dengan sang permaisuri meski cukup sulit.
Kei menghela napas dan berdiri, mengangkat kaki kembali ke kastil es Aoyuki meski belum sepenuhnya membaik. Setidaknya beruntung sosok permaisuri itu bermain cukup bagus dalam hatinya yang membuatnya merasa bersalah dengan kekanak-kanakan seperti ini. Ia pun memantapkan hati dan berjalan kembali ke kastil es Aoyuki.
Namun, baru beberapa langkah jauhnya ia dari tempat semula, Kei merasakan langit dan bumi bergemuruh, berguncang seperti akan runtuh. Ia berusaha menjaga keseimbangan sembari menatap langit yang benar-benar seperti akan jatuh.
Mata Kei melebar tak percaya. “Kiamat...!?” Tanpa berpikir panjang lagi pun dia segera berlari ke kastil es Aoyuki, meski kesusahan karena guncangan langit dan bumi di saat bersamaan.
“Aoshi!” Kei berteriak sembari melihat sekeliling kastil es yang mana sebagian telah berjatuhan dan menjadi keping.
“Kei/Kei-kun!”
Kei segera menoleh seketika mendengar teriakan dua temannya tersebut segera menghampiri mereka.
“Genzuki! Haru! Bagaimana dengan Aoshi?!” Suara Kei masih terdengar tergesa-gesa.
“Aah! Pergi saja selamatkan dia! Sebentar lagi tidak akan ada yang tersisa, dia masih sempatnya memikirkan keadaan rakyatnya!” seru Haru yang sepertinya juga mulai kesal.
Kei mendecih. “Ak-”
“Ya! Pergi saja, Kei-kun,” ucap Genzuki dengan segera.
Kei terdiam sejenak, mengangguk kemudian memeluk kedua temannya. “Kita harus bertemu lagi ... ,” gumamnya yang kemudian berlari pergi.
Haru dan Genzuki hanya tersenyum, berpegangan tangan dan mempasrahkan diri pada keadaan sembari berharap Kei bertemu dengan Aoyuki segera.
“Aoshi!” Kei segera meneriakkan nama sang permaisuri segera mendapatinya hendak meraih tangan salah seorang pria yang merupakan rakyatnya tersebut, sementara bongkahan es dari kastilnya sendiri akan segera menimpanya.
Aoyuki meraih tangan sang pria, tetapi Kei lebih cepat menariknya lebih dulu dan bongkahan es dari kastilnya sendiri pun jatuh dan menimpa apapun yang di bawahnya termasuk sang pria. Aoyuki terkejut, tak percaya.
“Apa yang- Kenapa! Aku-”
“Diamlah!” gertak Kei segera sembari tetap erat mendekap Aoyuki agar tak lepas dan berlari meraih rakyatnya lagi.
Aoyuki tersentak dan terdiam ketika wajah gertakan Kei tepat di depan wajahnya.
“Buka matamu! Ini sudah akhir dunia! Tidak bisakah kau sekali memikirkan dirimu saja!? Sampai kapan kau harus memaksakan dirimu hah!?” Dekapan Kei mengerat, seolah takut Aoyuki lepas dan menghilang. “Sampai kapan aku harus mengkhawatirkanmu!?” Kali ini gertakannya terdengar bergetar, seperti akan menitikkan air mata sembari menatap dalam manik ruby Aoyuki.
Aoyuki terdiam, menutup mata sebelum akhirnya memeluk Kei erat. “Maaf, maafkan aku,” ucapnya. “Sudah cukup, kau sudah cukup berambisi untuk terus menggapaiku ...
” ... And now you do ... “
” ... I see you ... “
” ... Thank you.”
Mata Kei melebar, terenyuh sebelum akhirnya ia mengubur wajahnya di bahu Aoyuki dan mendekapnya erat.
” ... Jangan lepaskan.”
“Tidak akan.”
Langit pun runtuh, bumi pun hancur. Tak ada hari esok dan juga waktu. Tak ada harapan maupun penyesalan. Semuanya berakhir menjadi satu dan begitu saja bersama dengan sosok yang dicinta, setidaknya.
Thank you for reading. Selasa, 29 Oktober 2024