In A Blink Of an Eye. — Anaxtasia.

Gulita tak menghentikan bisingnya kota dan gemerlapnya cahaya gedung tinggi. Tidak ada hari tanpa menyibukkan diri. Iruma Jyuto pulang kelelahan seperti biasanya malam ini.

Rutinitas yang tak banyak berubah ini membuat kedua tangannya yang mengendalikan kemudi itu seolah bergerak otomatis. Berkendara dengan setengah raga hadir pun tak membuatnya khawatir selain cepat sampai.

Setelah terasa seperti selamanya mengemudi, akhirnya mobilnya akan segera memasuki area parkir penthousenya sebentar lagi.

Sesaat tatapannya yang lelah nan acuh tak acuh ini perlahan melirik ke mana gedung penthouse yang menjulang tinggi tersebut semakin dekat, menangkap sesosok wanita yang bergeming nan hilang dalam lamunan di balkon kamarnya.

Hembusan angin malam menyibak gaun piyama putih dan setiap helai rambut pendek berwarna navynya. Namun, tidak dengan tatapan kosong dari manik rubynya yang terus menatap jauh dan dalam pada gulita.

Wanita aneh yang tak pernah Jyuto lihat sebelumnya. Sepertinya penghuni baru, pikirnya.

Di saat ia akan mengalihkan pandangannya pada jalan, ia yakin manik ruby wanita itu menangkap sosoknya sebelum akhirnya ia kembali masuk ke dalam kamarnya.

Jyuto menaikkan satu alisnya, keheranan. Tak terlalu dalam ia pikirkan, kemudian kembali fokus mengemudi dan memakirkan mobilnya.

Keesokan hari kembali berjalan seperti biasa. Tak banyak yang Jyuto lakukan, jadwalkan, pun pikirkan segera setelah menyelesaikan pekerjaan dan kasusnya hampir semalaman.

Mengemudi dan hampir sampai seperti hari-hari sebelumnya, tetapi tak ia sangka ia kembali menangkap sang wanita yang masih sama berdiri dan melamun di balkonnya.

Sepertinya kebetulan atau memang kebiasaannya?

Jyuto kembali tak memikirkannya terlalu dalam. Tak sedikitpun kecurigaan muncul di benaknya. Entah mengapa ia menghela napas di saat mendapati mereka tak bertukar tatapan seperti semalam.

Tak ia sadari bahwa sesungguhnya sang wanita menangkap penampakan mobilnya sebagaimana ia sudah cukup familiar.

Sama seperti malam sebelumnya, ia pun kembali ke kamar.

Seminggu berlalu dengan rutinitas yang seperti biasa tersebut ditambah dengan Jyuto yang terkadang menangkap sosok wanita yang tak pernah absen melamun di balkonnya itu, seperti hantu.

Tak ada rasa takut, justru curiga mulai terbangun, membuat Jyuto tak terlalu fokus pada menyetirnya itu. Aohitsugi Samatoki dengan rokok di antara bibirnya yang duduk di kursi penumpang di samping tersebut menyadari gelagat mengkhawatirkan dari pria satu timnya itu.

“Hei,” panggil Samatoki. Jyuto masih tak menggubris, hanya menatap lurus pada jalannya seolah fokus mengemudi.

“Jyuto.” Busujima Mason Rio bantu memanggil.

Samatoki mulai berdecak dan barulah Jyuto membuka suara.

“Ah, ya—”

Baru saja ia mengalihkan pandangannya dari jalan pada Samatoki, ia menyadari sekelibat sosok menyebrangi jalan membuat detak jantungnya terhenti sedetik segera sesaat ia menginjak rem secepat mungkin. Naas, mobilnya masih mampu mengenai sedikit sang pejalan kaki. Tanpa pikir panjang Jyuto segera turun dari mobil, menghampiri.

Samatoki dan Rio yang sempat tertarik ke depan oleh gravitasi menatap Jyuto yang telah keluar dari mobil.

“Ap—Bajingan, hei!” Samatoki berseru, terkejut dengan semuanya yang begitu cepat terjadi.

“Sepertinya ia mengenai pejalan kaki itu. Ayo,” ajak Rio yang ikut turun dari mobil.

Napas Jyuto sedikit terengah-engah dan segera berlutut di samping sang pejalan kaki yang diduga seorang wanita. “H-hei, kau baik-baik saja!?” tanyanya setengah panik.

Sang wanita yang tersungkur di tanah pun mengangkat wajah, bertemu tatapannya dengan si pengendara. Seseorang yang sama yang ia lihat setiap kali ia berdiam di balkonnya.

Jyuto semakin terkejut, tak mampu berkata-kata.

“Oi, Jyuto! Di mana otak dan matamu, hah!?” Samatoki kembali berseru, berteriak bahkan. “Hei, kau, jangan diam saja. Apakah kau baik-baik saja? Pria ini sedari tadi memang seperti kehilangan akalnya,” ucap Samatoki pada wanita tersebut, si korban.

Tsukihana Aoyuki pun akhirnya bersuara. “Y-ya ... Aku mengerti. Maaf, sepertinya ini juga karena kecerobohanku. Tidak masalah. Aku tidak terluka,” ucapnya yang perlahan berdiri. Luka gores di lutut dan kakinya mulai terlihat.

Jyuto segera berdiri. “Kau terluka,” ucapnya serius. Bahkan tangannya seolah menghadang wanita tersebut melangkah lebih lanjut.

Orang-orang mulai berkumpul. Suasana sedikit riuh, terlebih mengingat Jyuto adalah Sersan Polisi itu sendiri tak biasanya membuat gaduh.

” ... Biarkan aku membawamu ke rumah sakit,” paksa Jyuto.

Aoyuki menghela napas.

Setelah perdebatan kecil yang cukup panjang, mereka sepakat untuk mengantar Aoyuki pulang atas permintaannya.

Samatoki mengernyit heran sesaat Jyuto mengemudi seolah mengetahui tempat tinggal wanita yang ditabraknya.

“Kau tahu di mana wanita ini tinggal?” nadanya penuh curiga.

Jyuto jeda sejenak, kemudian menjawab, “Kurang lebih.”

Samatoki hanya mendecih.

Sementara Aoyuki hanya diam di kursi penumpang belakang bersama Rio di sampingnya. Sesaat ia sedikit melirik pada Jyuto yang sempat melirik padanya melalui spion. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada jendela.

Bukan canggung pun tak nyaman, hanya perasaan aneh yang tak biasa.

Tiga hari setelah kejadian tersebut pun berlalu. Meski satu penthouse, Jyuto dan Aoyuki tak pernah bertukar sapa sejak saat itu. Namun, Jyuto tak pernah ragu untuk melirik pada balkon kamar Aoyuki setiap malam sepulangnya ia dari bekerja yang nyaris seharian penuh, memastikan bahwa wanita yang tak pernah ia kenal itu benar-benar baik-baik saja meski lukanya tak serius.

Dan Aoyuki selalu berada di balkonnya tersebut. Tak pernah luput dalam menangkap tatapan dari manik emerald Jyuto di bawah sana yang cukup jauh itu.

Anehnya, Aoyuki tak merasa keberatan akan hal itu. Namun, ia juga tak mengerti mengapa ia merasa lebih baik dengan hal-hal remeh dari seorang asing bernama Jyuto tersebut.

Ia ingin merasakan dan memahami perasaan dalam dirinya lebih dalam lagi. Sayangnya, setiap ia melihat ke bawah balkon penthouse yang megah nan tinggi ini lebih membuatnya tertarik dan semakin tertarik ....

” ... Aku bertanya-tanya apakah dia masih tetap bisa melihatku jika aku tiada ....” Ia menyerah, tetapi nadanya terdengar sendu mengatakannya.

Tak terasa telah memasuki minggu pertama bulan baru yang mana hampir sebulan Jyuto bertukar tatap dengan Aoyuki di setiap pulangnya itu. Meski semuanya telah baik-baik saja, Jyuto ingin mengerti mengapa ia terus mencari sosoknya di balkon sana.

Entah risiko rutinitas atau memang untuk melepas kekhawatiran, karena tak dapat dipungkiri ia merasa nyaman dan kosong di saat bersamaan setiap sosok Aoyuki yang berada di balkon dengan pemandangan cukup tinggi itu terbayang.

Perasaan aneh yang tak biasa.

” ... Apakah dia selalu menunggu di atas sana .... “

Jeda sejenak, ia bergumam kembali. “ ... Apa yang ia tunggu di atas sana .... ” Nadanya terdengar takut dan cemas.

Hari terus berlalu dan Jyuto bekerja larut seperti biasanya. Beberapa polisi dan pemula juga di sana.

Hingga di saat pekerjaannya hampir selesai dan ia berkemas bersamaan dengan polisi lainnya, pos polisi tersebut mendapat laporan adanya seorang korban tergeletak tak bernyawa dengan dugaan jatuh dari ketinggian.

Alamat yang diberikan adalah penthouse tempat Jyuto tinggal. Dahi Jyuto mengernyit memproses keadaan, memikirkan kemungkinan, perasaan campur aduk dan cemas. Ia bersama bawahannya yang lain bergegas ke tempat kejadian perkara.

Dalam perjalanannya yang mulai semakin dekat dengan penthouse tersebut, ia mencuri kesempatan untuk mencari sosok Aoyuki di balkonnya seperti biasa itu.

Tidak ada.

Kata-kata yang muncul seketika sosok yang dicari tak ia temukan. Kecurigaan dan kecemasannya sedikit meningkat. Sesungguhnya ia tak tahu apa yang ia harapkan pun pikirkan, selain segera sampai di tempat.

Segera setelah sampai di tempat kejadian perkara, ambulans dan pemadam kebakaran telah mengelilingi sekitar. Orang-orang semakin ramai berdatangan. Polisi lainnya segera mengamankan tempat. Dan Jyuto memasuki garis polisi dan mendapati Samatoki dan Rio tak jauh dari korban yang telah tertutup kain, tetapi bersimbah darah tersebut.

“Samatoki? Rio?” nadanya tak percaya, tangan Jyuto mengepal. “Jangan katakan kalau—”

“Simpan basa-basi itu,” potong Samatoki segera, kemudian membuang puntung rokoknya dan menginjaknya. “Kau mungkin harus melihatnya sendiri.” Nadanya terdengar sendu dan didukung dengan Rio yang mengangguk.

Jyuto menelan ludahnya dengan susah payah. Ia pun melangkah menuju mayat korban yang berada di tengah-tengah polisi, pemadam kebakaran dan perawat tersebut.

“Ah, Sersan—”

Tanpa menunggu penjelasan dari salah perawat tersebut, Jyuto menyibak kain yang menutup korban itu. Sekujur tubuhnya pun kaku, napasnya terhenti dan tatapannya kosong menatap mayat yang tergenang cairan merah tersebut.

Rambut pendek berwarna navy itu, manik ruby yang kehilangan cahayanya itu, gaun piyama putih yang ternoda genangan darah itu. Jyuto jatuh pada lututnya seketika Tsukihana Aoyukilah korban tersebut. Cairan merah membasahi lutut Jyuto yang masih tak percaya dan terkejut.

“S-Sersan? Apakah—”

“Diamlah. Dia mengenalnya. Itu saja yang perlu kau tahu untuk sekarang,” tegur Samatoki dari belakang Jyuto pada sang perawat.

Jyuto yang masih kaku perlahan mengulurkan tangannya meraih tubuh dingin Aoyuki yang setengah hancur dan tergenang darah tersebut. Tangannya gemetar hebat, napasnya tak beraturan, tenggorokannya sakit menahan jerit dan emosi di saat bersamaan.

“Bangun ...,” gumamnya.

Jyuto menggertakkan giginya. “Bangun!!” teriaknya sembari merengkuh kedua bahu remuk mayat Aoyuki.

“Jyuto!!” Samatoki dan Rio berusaha menghentikan Jyuto.

Jyuto yang terbutakan emosi dan amarah itu mampu melepaskan diri dari kedua rekannya. Melayangkan tinju pada mayat Aoyuki yang tak sempat Samatoki dan Rio hentikan. Namun, tinjuan itu mendarat di samping kepala Aoyuki, masih di genangan darahnya.

“AOYUKI!”

Bahkan tangan yang terbalut sarung tangan merah tersebut tak mampu menutup kenyataan bahwa darah Aoyuki tertinggal di situ.

Tidak terbesit dipikirannya untuk semua hal aneh pun kebetulan bahkan sampai kematian Aoyuki yang membuat pengaruh hebat pada hidupnya.

Tiga bulan berlalu dan Jyuto masih setia mengalihkan pandangannya pada balkon kamar Aoyuki tersebut.

Sedih, sendu, kosong selalu setiap kali ia menatap ke atas sana. Namun, sesaat, tawa menyedihkan lepas dari mulutnya.

” ... Apakah kau selalu menunggu di atas sana?”

... Apa yang kau tunggu di atas sana ... ?”

Hembusan angin membuat Aoyuki mengalihkan pandangannya pada cerahnya hari yang menembus pada dirinya. Sesaat ia merasakan sendu dan sepi, sebelum akhirnya melihat ke bawah. Ia bisa melihat Jyuto yang melihat tepat ke arahnya yang tak beraga.

” ... Kau masih bisa melihatku meski aku tiada?”

” ... “

“Aku melihatmu.”

Aoyuki tak mengharapkan jawaban tersebut terdengar dari bibirnya.

Di bawah langit biru yang cerah ini, Jyuto merasakan setitik air jatuh di pipinya. Sudah cukup membuatnya tersenyum tipis dan percaya bahwa Aoyuki akan selalu di atas sana.

Thank you for reading. Monday, November 3rd 2025.