Tho I Don't Know You, Yet: Don't Go. – Anaxtasia.

• Warning: Suicide, Gore.

Bunga-bunga cantik yang layu, kering dan mati, kehampaan yang mengelilingi Tsukihana Aoyuki, dan ketakutan serta kegelisahan yang ia rasakan saat bersentuhan dengan kelopak warna-warni indah di sekitarnya pun membuatnya merasa bersalah dan frustasi.

Seburuk itukah ia sampai-sampai merusak dan tak layak bersentuhan dengan keindahan? Seolah sebuah kebenaran bahwa ketidaksempurnaannya itu merusak, merugikan. Aoyuki pun berdiam diri di tempat, enggan dan takut merusak lebih banyak bunga di sekitarnya, meski kegelisahan dan frustasinya menumpuk dalam diri bahkan semakin berantakan.

Sembari menggenggam erat kedua tangannya, gadis berambut navy pendek dengan manik permata berwarna ruby tersebut mengamati sekitar, walau ia tahu tak akan ada apa-apa kecuali ia, bunga mati dan kehampaan yang nampak tiada ujungnya.

” ... Benci ... ,” gumam Aoyuki yang sesaat gemetar. Dengan enggan pun ia memutuskan untuk melangkah dari tempat. Setiap langkahnya membuat lebih banyak bunga layu seketika. Kenapa? Ia semakin merasakan bersalah, pedih dan marah pada dirinya.

Hingga akhirnya ia berhenti lagi, mendapati pemandangan indah lainnya yang tak begitu jauh dari tempatnya saat ini. Sebuah pemandangan indah bunga clematis yang masih hidup, segar dan cantik melihat bagaimana banyaknya bunga yang mati di setiap langkah dan sekitar Aoyuki saat ini di sini.

Ia kembali takut dan ragu untuk mendekatkan diri lebih dekat lagi untuk memuaskan rasa tertariknya ini.

Namun, sekelibat warna merah di antara cantiknya ungu sang clematis pun sukses membuat Aoyuki memutuskan untuk mendekatinya saja. Apapun risikonya dia tanggung walau tak mengenakkan nantinya.

Sesaat beberapa langkah dekat dengan sekelompok clematis tujuannya, Aoyuki memelankan langkahnya seketika menyadari sesosok tubuh laki-laki terbaring damai di tengah-tengah kecantikan clematis sembari mendekap sebatang kamelia di dadanya, begitu erat dan aman seperti melindunginya. Aoyuki tak menyangka.

Namun, tak dapat ia ketahui siapa melihat bagaimana clematis tumbuh begitu subur hingga menutupi hampir seluruh wajah sang pria, walau ia sepertinya berada di posisi bertepatan dengan kepala sang pria, ia pun semakin bertanya-tanya.

” ... Mati ... ?” gumam Aoyuki yang perlahan mencoba meraih sang pria, walau sedikit berjarak darinya.

Rasa penasarannya pun membuatnya tanpa sadar melangkah semakin dekat, tak disangka ia mulai berlutut berhadapan dengan kepala sang pria juga. Bahkan dengan jarak sedekat itu Aoyuki hanya bisa melihat bibir dan dagu sang pria dari sela-sela clematis di sekitarnya. Benar, tangannya pun terulur pada wajah sang pria dan menyibak clematis yang menghalanginya.

Tangannya bersentuhan dengan clematis-clematis di sekitarnya dan akhirnya tangannya pun bersentuhan dengan kulit wajah rupawan sang pria.

Oh, bukankah sentuhannya menyebabkan benda dan makhluk hidup mati seketika?

Aoyuki terkesiap, ia baru menyadari apa yang tak seharusnya ia lakukan, ketakutan kembali menyerang. Bahkan ia sampai gemetar dan sedikit berkeringat sampai-sampai tak dapat, tak sempat mengenali wajah sang pria yang baru saja disentuhnya.

Namun, sebelum ia sempat menarik tangannya, manik rubynya melebar sesaat bertemu dengan manik biru cerah milik sang pria.

Dia terbangun? Dia hidup? Pikirnya.

Lidah Aoyuki semakin kelu tak percaya, bahkan tangannya tak berpindah dari pipi wajah sang pria.

” ... Aoshi...!” Tiba-tiba pria tersebut membuka suara. Aoyuki segera tersadar dari lamunannya. Namun, ia senakin terbelalak sadar sesaat ia mampu mengenali pria yang ia sentuh pipinya dan bangunkan dari tidurnya.

“S-senpai ... ?” ucap Aoyuki begitu saja. “K-kenapa? Bagaimana bisa kau di sini ... ?”

Benar juga, tempat apa ini? Aoyuki tak sempat menganalisis sekitar rupanya sebagaimana ia larut dalam sakit dan sedih.

” ... Napasku ... ?” Aoyuki terbelalak tak percaya seketika menyadari ia tak merasakan pergerakan paru-parunya, terlebih detak jantungnya.

“S-senpai ... !”

Semuanya terjadi begitu saja—Aoyuki tak sadarkan diri setelahnya.

Kelabu mulai menyelimuti langit, gemuruh  petir membangunkan Nagao Kei.

Ia membuka mata perlahan, tatapan sayu nan mengantuknya menganalisis sekitar. Ah, kenapa ia masih hidup? Ia melihat pergelangan tangannya, terletak pisau tak jauh darinya. Sepertinya ia pingsan dan percobaan bunuh dirinya gagal. Sial, pikirnya.

Tak ada pilihan lain, ia pun beranjak dari lantai tempat ia tertidur semalaman. Ada sekolah yang harus ia jalankan, setelah kehilangan temannya untuk yang kesekian. Kei gagal dalam misi memimpin pertamanya yang menyebabkan pengusiran setan semalam berakhir dengan kekacauan bahkan memakan korban, salah satunya sang teman.

Sudah menjadi risiko yang ia ketahui jika menjadi pengusir setan adalah pekerjaan yang berbahaya bahkan mampu merenggut nyawanya kapan saja. Namun, apakah melihat nyawa teman-temannyanya satu persatu gugur adalah risikonya juga?

Kei mulai mempertanyakan apakah pengusiran setan yang ia lakoni adalah benar jika tak mampu melindungi orang-orang yang ia sayangi.

Kei melihat keluar jendela, mendung masih menghiasi langit sana, hujan belum turun rupanya. Ia memutuskan segera berangkat tanpa ekspresi, tanpa semangat, hanya dengan payung di tangannya.

Jika saja waktu berhenti dan ia menghilang atau lebih baik mati ... Seperti sebuah hukuman dan siksaan batin melihat satu-persatu temannya gugur, sementara ia masih bernapas, hidup, bertahan di sini, saat ini.

Hidup memang tidak adil atau memang menyedihkan seperti ini? Pikir Kei.

Bel sudah terdengar sampai depan gerbang sekolah ketika Kei menginjakkan kakinya. Namun, ia berhenti sesaat ia mendapati sesosok gadis dengan seragam satu sekolah dengannya berdiri di tepi jembatan. Tak dirasakan adanya aura gelap nan mistis darinya, sudah pasti ia manusia terlihat bayangan di bawah kakinya. Kei menghela napas.

Tatapannya kosong, badannya pun sangat menempel dengan pembatas jembatan, semakin mengosongkan diri sampai perlahan ia akan terjatuh ke sungai bawah sana. Namun, sang gadis terkejut sesaat merasakan tarikan kuat di bahunya. Oh, sang Ketua OSIS rupanya.

“Hei, aku tanya, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kei sekali lagi, ketika hanya mendapat respon diam dan lamunan dari sang gadis sebelum akhirnya ia mengkerutkan dahi. “Ah, kau gadis 2-A itu, bukan? Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak dengar bel sudah berbunyi?”

Sang gadis mengerjapkan matanya. “A-aku ... Ah, ya ... maafkan aku, Senpai,” ucapnya sedikit tergagap.

Kei menghela napas. “Siapa namamu?”

“Eh ... ?”

“Siapa namamu.”

Sang gadis menggelengkan kepalanya sejenak, ia masih merasakan efek dari lamunannya sendiri. “Tsukihana ... Aoyuki,” jawabnya.

“Aoyu... Ah, terserahlah,” gerutu Kei. “Lagipula, Aoshi, cepat kembalilah ke sekolah. Aku tidak mau membuatmu repot-repot menjalani hukuman,” tambahnya.

Kei menghela napas. “Aku juga tak mau repot menghukummu.”

Aoyuki mengangguk sebelum akhirnya membungkuk hormat sedikit dan berlari kecil kembali ke area sekolah.

Kei mengamati sang gadis menjauh, memasuki area sekolah. Masih bertanya-tanya apa yang gadis itu lakukan di tepi sungai. Seperti menunggu dirinya sendiri jatuh ke sana berdasarkan penglihatannya.

Entahlah, apapun itu, setidaknya tak semua itu benar-benar terjadi dan gadis tersebut telah masuk ke sekolah lagi.

Ia pun memutuskan untuk menyusul sebelum akhirnya langkah kakinya terhenti sesaat merasakan seseorang menarik pergelangan tangannya, Kei menoleh ke belakang.

“Maaf, aku tahu kau mungkin masih bersedih, tapi aku butuh bantuanmu dalam misi darurat saat ini.” Salah satu kolega sekaligus temannya itu berkata.

Kei mengernyitkan dahi, curiga. “Bukankah misi sebelumnya selesai tak berjejak?” tanyanya.

Sang kawan pun dengan sedikit ragu menyerahkan selembar kertas berisikan peta dan rincian misi yang ia bicarakan.

Kei mengambil dan membaca isi tersebut, kemudian kembali menatap sang kawan dengan dahi yang semakin berkerut. “Bukankah jelas ini jebakan ... ? Bukankah kita setuju bahwa area utara dari tempat kita melawan iblis itu ditutup dan terlarang?” Ia semakin curiga dan khawatir juga.

“Tapi Ketua ingin kita menyegel tempat itu  untuk memastikannya aman. Dia bilang seharusnya kau tahu itu.”

Kei terdiam, mendecih, hingga akhirnya menghela napas. “Apakah ketua ikut?”

Sang kawan menggeleng. “Maka dari itu aku mengajakmu, meminta bantuanmu, karena dari yang dikatakan Ketua pun dia memintamu untuk ikut,” jelasnya.

Tanpa sadar Kei meremas kertas mengenai detail misi mereka. Ah, rasanya seperti disengaja diseret ke dalam masalah yang beruntun sebelum ia benar-benar tak berdaya.

Kek menghela napas sekali lagi. “Baiklah, ayo.” Ia tak punya pilihan lain, selain ikut pergi.

Perasaan tak enak dan tak yakin masih menghantui benaknya sampai detik ia menginjakkan kakinya kembali di tempat di mana ia dan tim yang ia pimpin saat menjadi pemimpin pertama kalinya berjuang mati-matian melawan iblis kemarahan. Dan yang menjadi tempat di mana ia kehilangan seorang teman untuk yang kesekian.

Entah takut atau ragu, Kei merasa bukan hal tepat untuk saat ini kembali ke area musuh.

Dan benar saja, setelah beberapa langkah jauhnya memasuki area musuh pun alas kakinya telah berpijak pada tanah dengan darah segar yang masih menggenang. Ini benar jebakan.

Sang iblis keluar dari persembunyian, rupanya mereka masih ada di sana, berevolusi menjadi sekumpulan kebencian yang merepotkan dan mematikan.

Karena energi jahatnya, kebenciannya begitu kuat mempengaruhi pengusir setan (Exorcist) lainnya. Membuat mereka melawan satu sama lain dan kembali membuat kekacauan.

“Fokus! Jangankan kosongkan pikiran!” seru Kei dengan segera memerintahkan sisanya yang tak terpengaruh untuk segera membentuk formasi segel mengelilingi iblis tersebut.

Namun, iblis itu nampak menargetkan sesuatu, seseorang. Kei dengan cepat menyadari ia mengarah pada sang kawan yang meminta bantuannya dalam misi ini.

“Tetsu—!”

Iblis tersebut membuatnya, sang kawan, Tetsu, memenggal kepalanya sendiri di depan matanya. Tanpa aba-aba, tanpa tanda, belum sempat berbuat apa-apa, sekali lagi, ia kehilangan dan menyaksikan kematian tragis nan sadis yang diperbuat sang iblis terhadap temannya.

Kemarahan Kei pun meluap, berteriak seolah mengguncang langit dan tanpa diketahui ia menghabisi iblis itu sendiri.

Gulita menyelimuti langit, Genzuki Tojiro semakin khawatir. Ia menghela napas dan kembali membereskan meja OSIS.

Kaida Haru tentu saja menyadari. “ ... Kei?” tanyanya.

Genzuki mengangguk dengan lesu, pria itu menjadi orang pertama yang paling peka dan sensitif terhadap rasa khawatir pada sahabatnya.

Haru menghela napas juga. “Ah, orang itu seperti biasa menghilang begitu saja,” keluhnya. “ ... Aku kesal dia tak pernah meminta bantuan pada kita ....” Sebenarnya Haru bergumam sedih.

” ... Dia juga tak terlihat baik akhir-akhir ini ....”

Haru dan Genzuki pun baru saja keluar dari ruangan OSIS dan berpapasan Kei baru saja keluar dari UKS sekolah setelah mendapat perawatan lukanya dari pertarungannya dengan iblis tadi.

Ah, pertarungan, ya? Ia tidak mau mengingat detailnya lebih banyak lagi.

Sudah cukup.

“Kei/Kei-kun!”

Kei sontak mengangkat kepala dan menoleh ke arah sumber suara di mana dia sahabatnya segera menghampirinya.

“Syukurlah kau tidak apa-apa!” ucap Genzuki dengan haru.

“Hei, apakah kau tahu bagaimana kami sangat mengkhawatirkanmu, hah? Sudah yang keberapa kau menghilang tanpa kabar dan kembali begitu larut?” omel Haru.

Kei terdiam sebelum akhirnya memasang senyum tipis dan kekeh. “Ahaha, maaf, ya, memang banyak sekali misi dadakan belakangan ini. Tapi, tidak apa-apa! Aku bisa mengatasi semuanya! Semuanya dalam kendali!” ucapnya dengan bangga, (seperti yang dia harapkan).

” ... Sungguh?” tanya Genzuki.

Kei kembali terdiam, selalu, sebelum akhirnya bisa menjawab. “Tentu saja! Aku ini sangat terlatih tahu!”

Haru menghela napas. “Bagus, sudah cukup dengan bualanmu dan sekarang ayo pulang,” ucapnya setengah sarkas sembari menarik kerah belakang Kei.

“Eh, eh!” Kei buru-buru melepaskan diri. “K-kalian tunggu aku di gerbang saja! Ada hal yang harus... kuperiksa, ya, 'kan? Yaa ... kau tahu! Sebagai Ketua OSIS hanya ingin memastikan semuanya aman? Haha ... ,” kekeh Kei setengah gugup.

Haru dan Genzuki hanya menatap seksama Kei sebelum akhirnya menatap satu sama lain, kemudian mengangguk bersamaan.

“Baiklah ... , kita tunggu. Lebih baik kau cepat.”

“Iya, iya!”

Segera setelah kedua sahabatnya itu berjalan pergi, senyum Kei yang ia pasang sedari tadi luntur dalam hitungan detik. Sejujurnya senyum itu membuatnya sakit mengetahui tak ada perasaan bahagia selain tak ingin membuat keduanya khawatir.

Kei pun berjalan menelusuri lorong sekolah yang telah sepi dan remang-remang ini ke kelas untuk mengambil tas dan barang-barangnya sebelum pulang. Langkahnya gontai dengan tatapan kosong seolah-olah ia akan jatuh menghantam lantai kapan saja. Badannya pun semakin berat membuatnya bersandar pada dinding dan terjatuh terduduk akhirnya. Tatapan kosongnya masih ada di sana sedang mengamati langit-langit koridor sekolah.

Sial, kesunyian lorong sekolah ini membuat kesedihannya terasa, bercampur aduk dengan ketakutan dan kemarahan. Kei ingin membuangnya, Kei ingin menghilangkannya, Kei ingin membunuh perasaannya.

Sakit itu bertumpuk di tenggorokannya. Terlalu banyak yang ia tahan, terlalu lelah untuk berteriak, air mata pun membasahi pipinya.

Oh, inikah rasanya dibenci kehidupan? Ia melakukan yang terbaik, benar-benar berusaha melakukan yang terbaik, tetapi sepertinya tak juga cukup untuk melindungi hal berharga dan ia sayangi?

Kei pun menangis, sesenggukan sepuasnya berpikir tak lagi ada seorang pun di sini.

Sementara itu Aoyuki baru saja keluar dari perpustakaan, menguncinya kemudian pergi meninggalkan tempat. Menelusuri lorong remang-remang dengan hati-hati sebelum akhirnya terhenti mendengar lirihan seseorang menangis.

Ia mencoba mengikuti suara lirih tangis tersebut, hingga sampailah ia pada sosok Kei yang memeluk lutut dan menangis tersebut.

Aoyuki buru-buru bersembunyi dibalik tembok sesaat mengetahuinya. Menatap ujung sepatunya sembari mendengar jelas tangisan sang kakak kelas.

Tangisan kehilangan, rasanya membawanya kembali pada ingatan dua hari lalu saat di mana sang nenek dibunuh dan dengan keji dibuat seolah ia bunuh diri dengan menggantung diri oleh mafia-mafia yang kakeknya tangani sebagai detektif ini.

Dan Aoyuki sebenarnya bisa menangani, menghabisi mereka jika tak dihalangi. Ia masih tak mengerti mengapa sang kakek melarangnya dan membawanya pergi sebelum ia sempat menyentuh tubuh sang nenek yang telah mati dan mendingin.

“Apakah kau tidak mengerti kau bisa saja lepas kendali!? Bisakah sekali saja aku melindungimu, Aoyuki!?”

Dada Aoyuki kembali sesak dan sakit. Matanya pun memanas, siap menangis lagi.

” ... Pasti sakit, ya,” batinnya.

Ia memejamkan matanya, menghela napas, membuka matanya kembali dan memutuskan untuk menampakkan dirinya dan mendekati Kei yang menangis sesegukan seorang diri di sana.

” ... Senpai ....”

Kei terkesiap sedikit mendengar jelas suara seseorang. Ia segera mengangkat wajah dan mendapati Aoyuki dan tangannya yang telah terulur memberi sapu tangan biru langitnya. Ia segera membuang muka.

“A-apa yang kau lakukan di sini ... ,” tanya Kei seolah menutupi wajah menyedihkannya yang sehabis menangis.

Aoyuki diam sesaat sembari mengamati Kei. “ ... Aku baru saja selesai mengerjakan ujian susulan di perpustakaan,” katanya.

“Kalau begitu pulanglah.” Kei masih membuang muka. “Sudah terlalu malam untukmu masih di sini.”

Aoyuki masih mengamati, hingga akhirnya menghela napas. “ ... Senpai.” Ia terus menyodorkan sapu tangan miliknya pada Kei.

Kei hanya diam dan terus membuang muka. Aoyuki pun tetap mengulurkan tangannya pada Kei dengan sapu tangan masih di tangannya.

Kei pun mendengus dan dengan seolah terpaksa ia pun mengambil sapu tangan tersebut.

Tentu saja ia masih diam. Namun, ketika mengintip wajah dan ekspresi Aoyuki yang tak tergerak bahkan mengatakan sesuatu pun membuatnya menghela napas.

“Terima kasih,” kata Kei.

Aoyuki terus mengamati saja, kemudian duduk dengan jarak di samping Kei.

Kei mengalihkan atensinya sepenuhnya pada Aoyuki yang duduk berjarak darinya.

“Aku sudah mengucapkan terima kasih, kenapa kau masih di sini?” Kei bingung.

“Aku tahu,” jawab Aoyuki sederhana. “ ... Aku hanya ingin memastikan Senpai benar-benar baik-baik saja.”

Kei terdiam, seketika terenyuh meski sesaat sebelumnya ia begitu sedih dan sakit rasanya. Ia melihat ke arah sapu tangan Aoyuki di tangannya.

” ... Kau merepotkan dirimu sendiri,” kata Kei, merasa miris.

“Aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya di sini, menemani, dan diam.”

Kei terus menatap sapu tangan Aoyuki di pinjamkannya padanya, kemudian menghela napas.

“Terserah padamu.” Ia pun kembali memeluk lututnya, menggenggam sapu tangan Aoyuki yang belum ia gunakan untuk menyeka air matanya yang mengering di pipinya.

Sementara Aoyuki pun seperti yang ia katakan, hanya diam.

Hening, kembali sunyi, tetapi Kei tak merasakan sepi. Entah kenapa terasa nyaman dan aman sedikit. Padahal ia tak mengetahui siapa Aoyuki, saking pendiamnya gadis ini, bahkan seolah tak terlihat di sekolah ini.

Namun, dirasakan dari energinya, Aoyuki sosok dingin yang aneh dan unik ....

Padahal sebelumnya ia merasakan perasaan bunuh diri saat di sungai ia bertemu dengan Aoyuki pagi ini.

Ah, mungkin saja kesalahannya dalam membaca dan merasakan energi, bukan?

” ... Dua orang di dekat gerbang sekolah itu temanmu, 'kan, Senpai?” Ucapan Aoyuki memecah hening pun membuat Kei menatapnya.

” ... Sepertinya mereka menunggumu? Kalau begitu, jangan terlalu lama dan cepatlah menyusul.”

Ah, ya, Genzuki dan Haru. Benar, dia seharusnya fokus dan melindungi dua orang sahabatnya itu. Tidak ada lagi yang pergi, sebelum ia bisa melakukan yang terbaik dalam melindungi, harus.

Pagi cerah tak banyak membuat suasana hati Kei berubah. Namun, dengan kehadiran Haru dan Genzuki membuatnya tak merasa sendirian menghadapi kesedihannya, perlahan ia masih bisa tertawa. Terima kasih kepada dua sahabatnya yang masih ia punya dan yang menyadarkannya bahwa masih ada hal berharga yang masih dan harus ia lindungi juga.

Mungkin Aoyuki juga termasuk secara ia tanpa disadari juga membantu?

Sepertinya Kei juga harus berterima kasih pada gadis misterius itu.

Sampailah ketiganya hendak menyebrang jalan. Menunggu lampu berubah warna sembari melakukan obrolan ringan dan candaan.

Hingga mata Kei tertuju pada sosok tak asing di seberang jalan lainnya. Ia Aoyuki yang membuatnya bingung sebelum akhirnya terbelalak dengan penampilan Aoyuki yang penuh luka dan darah yang nampak mengering di tubuh dan piyamanya—orang-orang di sekitarnya pun terkejut dan tak percaya. Tatapannya kosong ke arah lalu lintas.

Oh, aura bunuh diri? Rasanya Aoyuki sama seperti yang ia rasakan saat bertemu dengannya di sungai dekat sekolah tempo hari.

Kei meneguk ludahnya. “Aoyuki ... Itu Aoshi, 'kan?” Ia masih tak percaya.

“Aoyuki?” Genzuki mengikuti arah pandang Kei ke seberang jalan.

“Astaga ... ! Dia berlari akan menerobos lalu lintas!” seru Haru panik.

Pejalan kaki lain di sekitar sana pun ikut histeris.

Kei terkesiap, napasnya seolah terdekat ketika benar melihat Aoyuki berlari menyebrang melintasi lalu lintas yang masih ramai dengan kendaraan, bahkan sebuah mobil melaju cukup cepat siap untuk menghantamnya. Tubuhnya pun segera bergerak, berlari meraih Aoyuki secepatnya.

“Aoshi!” Kei mengulurkan tangannya, menarik Aoyuki cepat dan cukup kasar, kemudian segera mendekapnya.

“Kei/Kei-kun!!”

Kecelakaan pun terjadi dengan dua orang korban siswa-siswi SMA dilarikan ke rumah sakit.

Tarikan napas panjang nan mengejutkan terdengar dari Kei yang tiba-tiba membuka mata, kemudian terduduk dengan panik dan cemas.

“Aoshi!?”

“Kei-kun!?”

“Astaga, tenangkan dirimu!”

Kei masih terengah-engah. Khawatir, takut, dan cemas menjadi satu membuat badannya seolah memanas. Ia melihat Genzuki dan Haru bergantian.

“Aoshi!? Di mana dia? Dia hidup, 'kan? Masih hidup, 'kan?” tanyanya sedikit memaksa, sebelum akhirnya ia meringis merasakan bahu dan lengannya yang diperban dan disokong alat bantu tersebut berdenyut sakit. Ah, ia mengalami cedera bahu rupanya.

“Lihat!? Aku bilang tenangkan dirimu!” tegas Haru melihat Kei yang sudah kesakitan, tetapi malah panik begitu.

“Kita tidak tahu, kita tak bersamanya ... ,” lanjutnya dengan jeda sejenak.

... yang pasti ia bisa diselamatkan meski kehilangan banyak darah ... Terima kasih kepada golongan darahmu yang sama dengannya.”

Kei tenang sedikit. “A-apakah dia sudah sadar?” tanyanya cepat.

“Dari yang kudengar, Dokter mengatakan dia koma, untuk sekarang,” timpal Genzuki dengan wajah khawatir.

“Kalau begitu aku harus melihatnya sekarang!”

“Si bodoh ini!”

“K-kumohon?”

Haru terdiam sebelum akhirnya menghela napas kasar.

Mata Aoyuki terbuka lebar begitu saja dari komanya. Kardiograf di sampingnya menunjukkan detak jantungnya yang sedari lemah sekarang meningkat seketika, mengidentifikasi bahwa ia sadar pun terkejut dan cemas.

“Oh, Nona Tsukihana, syukurlah akhirnya Anda sadar,” ucap salah satu perawat di sana segera menghampirinya.

“Tenang, tenangkan dirimu,” katanya lagi.

Sementara Aoyuki masih terbaring sembari mengobservasi sekitarnya ini.

Ah, apa yang terjadi?

Benar, bukankah ia menabrakkan diri pada mobil dan sudah hampir mati? Bagaimana bisa ia hidup di sini?

Dan kenapa kakek dan neneknya tidak segera ke sini? Oh, ia lupa jika neneknya mati secara sadis, sementara sang kakek ...

Aoyuki mendadak terduduk di ranjang pasiennya dengan napas yang terengah-engah panik, bahkan nampak akan menangis sesaat menatap sang perawat yang sedang mengurus keperluan medisnya ini.

“A-ada apa?” Sang perawat kebingungan pun berusaha menenangkan Aoyuki dengan merengkuh bahunya.

Setitik air mata terbentuk di ujung mata Aoyuki saat menatap sang perawat balik. “K-kakek ... ,” ucapnya terbata-bata.

“Kakek? Kau ingin aku menghubungi kakekmu?”

Aoyuki menggeleng cepat. “A-aku membunuhnya.”

Sang P tercengang tak percaya. Mungkin efek dari sadarnya Aoyuki dari koma.

“A-aku harus mati. Aku lepas kendali. A-aku membunuh kakek dengan kekuatanku sendiri ....” Aoyuki pun terisak.

Sang perawat menggelengkan kepala. “Tenang Nona Tsukihana, itu semua pasti efek dari komamu.”

“Aku benar-benar membunuh kakek malam itu!” jerit Aoyuki frustasi dengan tangis bahkan mencengkeram rambutnya sendiri. “Aku ... Aku ... !”

Ah, ya, pikirannya kembali berkelana ke malam di mana kediaman baru bersama kakeknya—setelah sang nenek meninggal menjadikan tempat lamanya tak lagi aman—ternyata juga diserang oleh musuh.

Malam di mana ia hampir terlelap segera dibawa lari kembali oleh sang kakek untuk diselamatkan terlebih dahulu. Dan ia ingat jelas bagaimana sang kakek tertembak di perut. Memaksanya untuk pergi lebih dulu. Tentu saja Aoyuki tak bisa melakukan itu.

Panik dan ketakutannya menjadi satu saat berusaha menyelamatkan sang kakek sebelum musuh datang yang membuatnya berakhir menyaksikan pertikaian sengit kakeknya yang sekarat dengan musuhnya.

Benar-benar sekarat seolah sang kakek akan mati kapan saja.

Ia yang gemetar dan hanya tujuh belas tahun itu pun menjerit histeris, hingga membuat kekuatan es-nya lepas kendali yang mulai menyerang tak beraturan sana dan sini.

Namun, di saat seperti itu es-nya mampu mengusir para musuh, meski sebenarnya mereka kabur. Meski begitu ia tak bisa berhenti, walau ia tahu dan melihat sendiri jika para musuh telah kabur.

Hingga akhirnya sang kakek pun tertusuk balok tajam es-nya. Ia membunuhnya.

Tidak, dia ingat, dia ingat bahwa sang kakeklah yang membiarkan dirinya tertikam oleh mata es-nya untuk menghentikannya.

Ah, sekarang ia mengerti mengapa sang kakek begitu memaksanya untuk lari dan dilindungi agar tak lepas kendali, karena jika begitu dia tak akan berhenti sebelum ada yang mati atau kekuatannya akan membunuh dirinya sendiri.

Ya, tidak, itu tak membuatnya lepas dari kejahatan bahwa ia telah membunuh kakeknya sendiri.

“Tidak ... , tidak ... , tidak ... !” Aoyuki menjerit sembari terisak.

“N-nona—”

“Aoshi ... !” Kei masuk (mendobrak) tiba-tiba membuat atensi sang perawat segera teralih padanya.

Kei, Haru, dan Genzuki segera masuk dan menghampiri Aoyuki, terlebih Kei.

“A-ada apa dengannya?” tanya Kei pada sang perawat.

Sang perawat menggelengkan kepala dengan wajah khawatir dan sedih. “D-dia mulai menjadi frustasi sejak tersadar dari komanya, terus menggumamkan ia membunuh kakeknya yang mungkin hanya efek dari koma—”

“Diam!” jerit Aoyuki membuat satu ruangan terkejut dan terdiam. Isakannya semakin keras dan pedih.

Sementara Kei terbelalak tak percaya mendengar penjelasan sang perawat. Tak mengangkat Aoyuki rupanya mengalami tekanan emosi yang luar biasa.

“H-haruskah kita melakukan sesuatu sebelum ia menyakiti dirinya sendiri?” Khawatir Genzuki.

Kei meraih tangan Aoyuki dengan tangan lainnya yang tak mengalami cedera. “Hei, Aoshi! Hey!” panggilnya dengan tegas dan khawatir sembari berusaha menatap mata ke mata dengan Aoyuki.

Aoyuki yang berhenti tantrum sesaat menangkap manik mata biru cerah Kei pun terdiam dengan air mata yang masih berlinang di pipi.

Oh, bukankah dia kakak kelas yang ia lihat di saat komanya tadi?

Oh, dia tidak mati setelah sentuhannya tadi?

Justru ... hidup?

Namun, kenapa ia juga padahal ia ingin sekali mati?

“Kenapa ... Kenapa kau mencoba menyelematkanku!?” teriak Aoyuki dengan tangis yang masih tak berhenti.

Kei hanya tersentak sedikit, tetapi terus mendengarkan Aoyuki sembari tetap menatap matanya seolah tanpa kedip.

“Kenapa kau mencoba menyelematkanku! Aku ingin mati! Aku tak butuh hidup! Aku seharusnya mati! Aku—”

“Aku juga ingin mati!” gertak Kei yang juga berusaha menahan Aoyuki untuk tak tantrum menyakiti dirinya sendiri dengan mengenggam erat pergelangan tangan Aoyuki meski satu tangan saja.

Aoyuki terdiam, tak terkecuali Haru dan Genzuki di sana.

Kei menggertakkan giginya. “Aku juga ingin mati, kau tahu!? Tapi ... ” Kei jeda sejenak, wajahnya mengernyit sedih.

... Tapi tak adil rasanya jika aku ingin mati dan memintamu untuk hidup, 'kan?

Kau tahu itu, 'kan?” lanjutnya sembari menatap Aoyuki dalam dan semakin sedih seolah memohon ini.

Aoyuki terus diam sembari menatap Kei balik yang masih dengan air mata berlinang di pipinya. Kata-kata sang kakak kelas tersebut masuk begitu dalam dalam dirinya. Namun, tetap saja ...

” ... Aku ini ... monster .... Aku tak punya siapa-siapa karena 'aku'. Aku tak mau membunuh orang lagi ... Kumohon, biarkan aku—”

“Kau benar, kau tak punya siapa-siapa lagi. Aku juga tak tahu siapa kau dan apa yang kau hadapi ... ,” ucap Kei lembut dan tetap tegas.

“Meski begitu ... ” Kei perlahan merengkuh Aoyuki, memeluknya. “Aku akan melindungimu. Aku ingin melindungimu ... “

... Aku tak berusaha menjadi pahlawanmu, tapi aku tak akan membiarkanmu mati dalam kesedihan dan rasa sakitmu.”

Aoyuki terbelalak. Ini sakit, tetapi juga hangat.

” ... Senpai ....” Aoyuki kembali terisak haru dan sakit sembari membalas pelukan Kei.

Kei mendekap Aoyuki dengan satu tangannya tersebut semakin erat.

” ... Tolong hidup.”

” ... Apakah kau juga akan hidup ... ?”

” ... Ya,” jawab Kei sedikit menitikkan air mata.

Ternyata hidup tak seburuk itu. 

” ... Jangan pergi ....”

Thank you for reading. Kamis, 07 November 2024. First published at Wattpad.