帝国「啼哭」少女。 — Anaxtasia.
Rasanya bumi berputar begitu saja. Tiga bulan berlalu dalam sekejap mata. Hari-hari yang berjalan seperti biasa nampaknya terbuang sia-sia, seketika menyadari bahwa rencana pernikahan bahkan belum sampai setengahnya.
Tsukihana Aoyuki yang termenung menatap langit kelabu pun teralih pada ponselnya sesaat mendengar notifikasi pesan masuk dengan nama kontak Iruma Jyuto tersebut.
“Aoyuki, maaf, aku tak menemukan tanggal yang tepat untuk tanggal baru pernikahan kita. Masih ada banyak kasus yang harus aku selesaikan.”
“Aku juga akan sibuk malam ini. Jadi, aku akan pulang larut lagi.”
“Apakah kau mengunjungi penthouse?”
Setiap kata yang Aoyuki terima hanya terus ia tatap. Tak ada keinginan untuk mengangkat jarinya sedikit pun untuk membalas pesan tersebut dengan segera. Bahkan ia bergeming cukup lama.
Karena sesungguhnya Aoyuki sudah cukup putus asa dan menyerah dengan rencana, hubungan, pernikahan, terlebih lagi mereka.
Beberapa saat terdiam, ia pun membalas.
“Ya, aku di penthouse. Aku tidak akan lama. Tidak apa-apa.”
Di bawah lima menit, Aoyuki telah mendapat balasan.
” ... Baik, aku senang kau mengunjungi penthouse. Tidak perlu buru-buru, aku akan coba pulang dan kita bisa membicarakan rencana pernikahan kita, ya?”
Terdengar seperti kebohongan.
Betapa Aoyuki sangat mempercayai Jyuto sampai ia tak ingin lagi kecewa karenanya.
“Aku tidak bisa berlama-lama. Selamat malam. Aku harus pulang.”
“Setidaknya biar kuantar.”
“Pekerjaanmu sama pentingnya.”
“Aoyuki.”
“Aku ingin sendiri.”
Bertukar pesan itu berhenti di sana. Jyuto berhenti memaksa. Aoyuki pun tak menunggu balasan.
Tidak ada yang perlu diharapkan.
Jyuto tahu akan begini akhirnya.
Sejak hari itu mereka semakin lama tak saling bertemu. Bertukar pesan yang masih terjadi pun Aoyuki yang tak begitu responsif seperti dulu. Hadiah dan buket bunga yang rutin Jyuto kirim ia biarkan menumpuk.
“Kau semakin jarang meninggalkan apartemenmu.”
“Bolehkah aku berkunjung?”
“Setidaknya beritahu aku kau baik-baik saja.”
Semua catatan yang ia tinggalkan di setiap hadiah itu sudah Aoyuki baca, bahkan sudah membalas salah satunya. Sekadar mencoba.
Namun, tak disangka Jyuto benar mengunjunginya.
Meski sedikit terkejut dan tak percaya, masih dengan perasaan yang berat dan berantakan, Aoyuki membuka pintu dan menemui Jyuto di sana.
Jyuto tersenyum tipis. “Kau masih di sini.”
Aoyuki tak menjawab, tatapannya tak bertemu iris Jyuto sama sekali.
Jyuto sedikit menghela napas dan kembali berkata, “Boleh aku masuk?”
” ... Aku yakin kunjunganmu tak akan lama,” jawab Aoyuki akhirnya.
Sesungguhnya itu cukup membuat Jyuto tertegun dan jeda sejenak, sebelum akhirnya membalas, “Begitu? Tapi hari ini aku—”
“Aku masih ingin sendiri,” potong Aoyuki, genggamannya semakin erat di gagang pintunya ini. “Cukup ... bertemu saja di sini. Katakan apa yang ... kau inginkan.” Nada Aoyuki terdengar lelah dan marah di saat yang bersamaan.
Dan benar, mereka kembali bertemu, tetapi hanya cukup sampai di pintu.
Jyuto bergeming, hanya menunduk menatap Aoyuki. Wajahnya semakin tak berekspresi. Tak ada yang tahu jika ia kecewa atau dingin. Namun, yang pasti ia tak berniat melangkahi batasan dan keinginan Aoyuki.
” ... Maaf, ya, semua jadi begini.” Ucapan terdengar pelan sekali membuat Aoyuki menoleh sebelum akhirnya mundur lagi, ketika Jyuto mendekatkan wajahnya dan berhenti.
” ... Tidak boleh mendekat?” Jyuto mengamati ekspresi Aoyuki yang hanya diam. Ia hanya tersenyum tipis mendapati keraguan tersirat di manik ruby-nya. “Baiklah.” Ia menarik diri.
Jyuto menyerahkan setangkai chrysanthemum merah pada Aoyuki.
“Aku akan kembali.” Ia pun beranjak pergi sembari menyalakan sepuntung rokok dan menghembuskan asapnya di udara malam yang dingin.
Sementara Aoyuki hanya menatap chrysanthemum merah di tangan. Seharusnya ia menampar atau lebih baik meninju wajah polisi berkacamata itu.
Hubungan dan komunikasi masih berjalan seperti biasa, kecuali tak ada pembahasan mengenai rencana pernikahan mereka.
Sudah cukup banyak Aoyuki membuang-buang waktu dengan menatap di Yokohama. Jyuto masih sama sibuknya. Pernikahan terus tertunda. Begitu juga Aoyuki, ia sudah seharusnya kembali bekerja.
Terlintas di benaknya bahwa kesibukan dan kerenggangan ini tak biasa. Seolah waktunya tepat untuk memisahkan mereka perlahan. Tak ada penyesalan, Aoyuki hanya kesal jika ia benar masuk dalam salah satu permainan.
Ia meraih ponselnya dan menuju ke salah satu kontak yang enggan ia lihat namanya sekalipun.
Aoyuki menghela napas, sebelum akhirnya sebuah pesan pun ia ketik.
“Kadenokoji.”
Satu pesan tersebut terkirim. Tak ia sangka ia akan segera mendapat balasan dari yang bersangkutan.
“Tsukihana? Jarang-jarang sekali. Aku cukup sebal mendapat pesan darimu.”
Tak pernah Aoyuki harapkan hubungannya dengan Chu-Oh-Ku akan baik.
Pesan baru menyusul.
“Apa yang kau inginkan?”
“Jyuto. Kau atasan langsung orang itu. Apapun yang kau lakukan padanya untuk terus membuatnya sibuk, aku bisa melakukan hal yang sama pada Chu-Oh-Ku.”
“Mulut besar sekali. Aku tidak ada urusan dengannya akhir-akhir ini. Kenapa? Menyesal berhubungan dengan pria? Bagus.”
Aoyuki menggenggam erat ponselnya. Bukan karena ledekan Kadenokoji Ichijuku, tetapi karena pria itu benar-benar sibuk, atas kehendak dan tuntutannya sendiri.
“Benar, pernikahan kalian tertunda tiga bulan terakhir, bukan? Sayang sekali.”
“Aku tak peduli apa yang terjadi, tapi lebih baik tinggalkan saja bajingan yang selalu menarik ucapannya sendiri. Aku tak ingin melihat keluhanmu terhadap Chu-Oh-Ku atas urusanmu pribadimu.”
“Semoga beruntung.”
Aoyuki hanya membaca tiga pesan terakhir dari seorang Ichijuku dan termenung, sebelum akhirnya sebuah panggilan suara masuk.
Jyuto.
Nama yang tertera membuat Aoyuki menatap panggilan masuk itu cukup lama.
Ia pun mengangkatnya.
“Aoyuki? Syukurlah kau mengangkat panggilanku. Aku khawatir kau tidak membalas pesanku seminggu ini.”
“Kau baik-baik saja?”
“Bolehkah aku berkunjung?”
Aoyuki memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya menjawab, “Aku sibuk malam ini. Aku harus mengemas barangku dan kembali ke Tokyo. Cutiku sudah habis.”
Terdengar seperti mengikuti saran Ichijiku. Meski begitu, keputusan Aoyuki sudah bulat untuk tidak lagi menunggu dan membuang-buang waktu mendengar keputusan Jyuto.
” ... Begitu? Aku mengerti, tapi ...
... aku harap ini tak masalah bagimu jika aku menjempumu untuk kencan dan makan malam besok.”
Aoyuki kembali tertegun. Memang seharusnya pria ini dipukul.
Keesokan harinya, malam pun tiba. Aoyuki memasang anting mutiara untuk sentuhan akhir dari dandanannya, kemudian menatap diri yang sudah terias rapi nan cantik dengan gaya serba hitam khasnya; gaun mini, stocking, hak tinggi, dan tas tangan semuanya dalam warna hitam.
Dia nampak menyedihkan menerima tawaran kencan Jyuto, ketika ia pada akhirnya akan meninggalkannya. Toh kesempatan bagus untuk mengucapkan selamat tinggalnya dengan layak.
Sebuah pesan pun masuk. Aoyuki tak perlu menebak sang pengirim sekalipun.
“Kau sudah siap? Aku dalam perjalanan untuk menjemputmu.”
Aoyuki segera membalas.
“Aku bisa sendiri. Kirim saja lokasinya.”
Meski Jyuto tahu bahwa akhirnya akan begini, entah mengapa ia sedikit terenyuh dengan pesan Aoyuki. Terus mengingatkannya pada realita bahwa mereka mungkin sudah tak bisa bersama lagi.
“Baiklah, ini lokasinya. Aku menunggumu di sana.”
Aoyuki segera memesan taksi dan menuju lokasi tanpa membalas apapun pada Jyuto lagi.
Sesampainya di lokasi sebuah restoran kelas atas yang Jyuto kirim, Aoyuki segera menuju reservasi yang segera mengarahkannya ke meja sesuai pesanan. Cukup tak disangkanya bahwa Jyuto sudah lebih dulu di sana.
Postur yang tegap, bukan tegang. Tatapan misterius dan dalam. Masih tetap Jyuto yang sama.
Aoyuki sampai dan berdiri tanpa sepatah kata.
Jyuto segera berdiri dari duduknya segera setelah mendapati Aoyuki sudah di depan mata. Ia menarik kursi untuk wanita tersebut sebelum kembali duduk.
“Aku senang kau hadir,” ucap Jyuto dengan senyum tipis yang hanya dibalas tatapan oleh Aoyuki.
” ... Aku senang kita masih bisa bertemu, Aoyuki,” benaknya.
” ... Kurasa kau tak lagi sesibuk itu bisa datang lebih awal ke sini,” ucap Aoyuki sembari membuka menu yang diberikan pelayan tadi.
Jyuto hanya tersenyum. “Reservasi.”
Aoyuki menatapnya tajam. Antara kesal atau telah mendeteksi kebohongan darinya.
Jyuto sempat terkekeh sebelum akhirnya menjawab, “Maaf, sudah menyusahkanmu dan menunda pernikahan kita.”
Pembicaraan ini pun akhirnya terbuka bersamaan dengan datangnya hidangan pembukaan.
Aoyuki hanya diam menatap dan mendengarkan. Sementara Jyuto perlahan nampak serius dan tenang.
” ... Dan aku berpikir untuk mengurus semua sisanya mulai dari sekarang.” Senyum tipis nan miris masih terukir. “Jadi, ... ” Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis kain beludru merah dari jasnya itu. Membuka tutupnya dan meletakkannya di hadapan Aoyuki, menampakkan cincin pernikahan yang seharusnya sudah terjadi sejak tiga bulan lalu.
” ... Ayo, kita lanjutkan.”
Kalimat itu terucap enteng sekali dari bibirnya. Aoyuki menatap hampa pada cincin yang baru muncul di hadapannya, setelah ia buang jauh harapan bahwa ia akan pernah melihatnya.
Kesal dan kecewa membuat tangannya mengepal dan sedikit menghantam meja membuat apapun di atasnya mulai goyah.
“Setelah aku akan pergi?” ucapnya dengan penuh penekanan. “Kenapa tidak sedari awal?”
Giliran Jyuto yang hanya diam menatap Aoyuki.
“Kunjungan malam itu, makan malam hari ini, hadiahmu yang menumpuk ...
... Kau benar-benar membuatku senang dengan hal-hal kecil dan mengecewakanku dengan hal sebesar dan sepenting pernikahan yang bahkan rencananya tidak sampai setengahnya, ya?”
“Beginikah caramu memperbaiki semuanya?”
Tenggorokan Jyuto seolah kering. Namun, ia mampu mendorong dirinya untuk membalas, “Aku mengerti. Aku sudah banyak menyia-nyiakanmu dan akan wajar jika kau menamparku saat ini.”
Jyuto terkekeh miris. “Jadi, bagaimana kalau kita akhiri?”
Keinginan untuk menampar bajingan di depannya ini sudah sangat meluap dalam diri Aoyuki. Namun, tangan bodohnya ini tak terangkat sedikit pun untuk beraksi.
” ... Aku tidak butuh berpikir dua kali,” ucapnya dan makan malam pun berakhir, begitupun hubungan dan pernikahan mereka sendiri.
Gemerlapnya gedung pencakar langit di Yokohama yang masih belum ia tinggalkan. Lalu lintas yang seolah tak pernah sepi dari kendaraan. Berbagai macam musik terdengar begitu menyebalkan di sepanjang langkah gontai Aoyuki yang menyusuri malam.
Kepalanya tertunduk, langkahnya tak tentu arah, dadanya sesak, tatapannya hampa. Bahkan di kondisi seperti ini, rasa sakit dari hak tingginya tak ada apa-apanya lagi.
Aoyuki mengangkat tangan kirinya, mendapati cincin tunangan bersama Jyuto yang telah menjadi mantan tunangannya beberapa menit lalu masih melingkar cantik nan menyedihkan. Tanpa pikir panjang pun ia melepas dan membuangnya ke tanah. Kenapa perih di dadanya malah semakin menambah?
Sudah cukup bulat ia menginginkan ini. Sudah lama ia ingin berpisah dari Jyuto dan cincin ini. Mengapa pada akhirnya hanya seorang nona yang menangis?
“Bajingan ... ,” isak Aoyuki sembari menghapus dengan hati-hati air matanya sendiri, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya.
“Oh! Aku menemukannya, cincin yang dia buang!”
Mendengar ucapan dari seorang Yamada Jiro di seberang pun membuat Jyuto tertegun sejenak. “Baiklah, tolong berikan kepadaku dan kau bisa berhenti sampai di sini saja.”
“Kau yakin? Aku masih bisa—”
“Sudah cukup, Yamada Jiro.”
Sebelum Jiro bisa protes, panggilan pun terputus membuat lidahnya berdecak.
“Hubungan orang dewasa itu rumit dan tak masuk akal,” gumamnya yang menunggu Jyuto untuk sampai di mana ia berada untuk dapat mengembalikan cincin yang Aoyuki sempat buang.
Menerima cincin tersebut, sudah cukup membuat Jyuto untuk tak perlu mengkhawatirkan dan mengejar Aoyuki lagi. Meski begitu, ia tak lagi mampu menutup dan membohongi perasaannya yang semakin sakit.
Memarkirkan mobilnya dan berjalan pergi menuju jembatan, Jyuto menyalakan sepuntung rokok dan menghembuskan asapnya di udara malam. Menyadari dirinya yang semakin menyedihkan, mungkin ia akan membuang cincin tunangannya di laut Yokohama.
Beberapa langkah hampir mencapai tujuannya, Jyuto terdiam mendapati dirinya berpapasan dengan sosok yang ia anggap tak akan lagi ia temui seumur hidupnya.
Aoyuki sama terdiamnya. Namun, dengan segera mengumpulkan kesadaran untuk secepatnya pergi dari sana.
Tanpa sepatah kata, bahkan puntung rokok pun terjatuh di tanah, Jyuto menangkap pergelangan tangan Aoyuki dan menahannya.
“Yuki, tung—”
Saat pria itu menariknya mendekat, akhirnya Aoyuki bisa melayangkan satu tamparan keras di wajah rupawan yang selalu tenang itu.
Bahkan wajah Jyuto sampai menoleh ke arah lain, tetapi ia tak terkejut sama sekali. Perlahan ia kembali menatap Aoyuki yang sudah menegang dan berlinang tangis.
Aoyuki menggertakkan gigi sembari mengepalkan kedua tangannya seolah menahan air matanya untuk tak terus mengalir saat ia membuka suara.
“Apakah itu sakit? Apakah itu sudah cukup sakit untuk membuatmu mengerti bagaimana aku sangat, sangat membencimu yang dengan tidak adilnya memberikan segalanya di saat yang kuinginkan hanya membenci?”
“Kebaikanmu, kehadiranmu, suaramu, wajahmu, kotamu .... ” Aoyuki terisak yang tersembunyi di balik kedua telapak tangannya. “Aku membuangnya, aku ingin membuangnya, tetapi itu hanya membuatku semakin sedih dan sakit, karena kau yang masih memberikan segalanya.”
Jyuto nyaris mengiggit bibir bawahnya.
” ... Ini semua salahmu .... “ Aoyuki tak mampu menghapus setiap air mata yang mengalir dan tak dapat ia hentikan.
“Kau bodoh dan sangat tidak adil ... !”
Tidak Jyuto sadari jika selama ini ia telah membuat Aoyuki bimbang atas perasaannya sendiri.
” ... Jika aku pergi itu juga tidak akan membuatmu lebih baik, bukan?” ucap Jyuto yang tak dapat di balas oleh Aoyuki yang masih terisak.
“Dan tidak akan ada yang membuatmu lebih baik, Aoyuki.”
Ucapan itu terdengar terlalu tegas membuat Aoyuki menatapnya dengan sedih dan tak percaya.
“Jadi ... ,” Jyuto jeda sejenak, tangannya terulur menghapus air mata Aoyuki. “ ... tinggalkan aku saat kau yakin kau tidak akan menangis melakukannya.
Namun, sampai hari itu tiba dan kau masih menangis seperti sekarang, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku.” Jyuto tersenyum setengah mengejek.
Perlahan kalimat itu memasuki Aoyuki yang masih sedikit terisak. Ia pun cemberut dan kesal di saat bersamaan.
“Bajingan ... ,” gerutunya dengan isak.
Jyuto menghapus habis air mata Aoyuki sekali lagi dan memeluknya.
“Benar,” katanya. “Maafkan aku. Lakukan apapun sesukamu sampai kau memaafkanku.”
Aoyuki hanya bisa terdiam dengan air mata yang akan segera mengalir kembali. Sebelum itu terjadi, ia memukul dan memaki Jyuto lagi.
“Jangan harap aku percaya padamu begitu saja ....”
“Aku tahu, aku masih mencintaimu.”
Aoyuki mendengus. “Bodoh ....”
Jyuto hanya terkekeh, sebelum akhir melepas Aoyuki.
“Kalau begitu, ayo kembali.” Ia mengenggam tangan Aoyuki untuk membawanya bersamanya.
Aoyuki tak bergerak dari tempatnya. Sedikit ragu, kemudian bertanya, “Ke mana? Kau tahu aku harus kembali ke Tokyo.”
Jyuto menoleh. “Tentu saja, aku bisa mengantarmu ke sana,” katanya seolah melupakan ucapannya yang sebelumnya.
Dahi Aoyuki berkerut. “Jadi?”
Jyuto kembali terkekeh. “Ayo kita kembali ke rencana pernikahannya.”
“Atau, ayo kembali ke pernikahan kita,” tambahnya dengan senyum beribu makna.
Aoyuki berdecak kemudian memukul otot perutnya yang segera membuat Jyuto meringis sakit.
“Itu lebih baik ....” Meski menahan sakit, Jyuto tersenyum tipis.
Mereka bergandengan tangan kembali. Tak ada yang berubah dengan kota ini, tetapi semua senang sedih keduanya yang terjadi di kota ini akan menjadi salah satu memori.
“Sudah kubilang aku akan kembali.”
Omake:
Di saat Yamada Jiro mendapat permintaan dari seorang Iruma Jyuto untuk membuntuti seseorang. Namun, tak disangka ini ada sangkut pautnya dengan hubungan mereka.
Toh pekerjaan adalah pekerjaan. Jiro melaksanakannya dengan cukup baik.
Benar, karena di saat pertama kali Jiro menemukan cincin yang Aoyuki buang, ia lupa jika itu adalah milik Aoyuki.
“Oh, mungkin itu milik nenek yang di sana! Dia terlihat mencari sesuatu juga,” ucap Jiro yang entah sadar atau tidak masih tersambung panggilannya dengan Jyuto.
“Apa? Yamada Jiro, apa yang kau lakukan? Itu sudah pasti milik—”
“Nenek! Apakah ini yang kau cari?”
Jyuto yakin seribu persen anak SMA Ikebukuro itu menanyakan cincin yang Aoyuki buang (tak salah lagi) pada sang nenek.
Jyuto menghela napas sebelum akhirnya menegur, “Yamada Jiro, fokus!”
“O-oh, benar! Maaf! Aku hanya mencoba membantu.”
“Jadi bantu aku! Astaga ....”
Pusing Jyuto bertambah. Namun, sepertinya semua terbayar dengan sepadan.
Cincin itu akhirnya kembali ke jari manis Aoyuki.
Thank you for reading. Monday, November 17th 2025.