Anaxtasia

帝国「啼哭」少女。 — Anaxtasia.

Rasanya bumi berputar begitu saja. Tiga bulan berlalu dalam sekejap mata. Hari-hari yang berjalan seperti biasa nampaknya terbuang sia-sia, seketika menyadari bahwa rencana pernikahan bahkan belum sampai setengahnya.

Tsukihana Aoyuki yang termenung menatap langit kelabu pun teralih pada ponselnya sesaat mendengar notifikasi pesan masuk dengan nama kontak Iruma Jyuto tersebut.

“Aoyuki, maaf, aku tak menemukan tanggal yang tepat untuk tanggal baru pernikahan kita. Masih ada banyak kasus yang harus aku selesaikan.”

“Aku juga akan sibuk malam ini. Jadi, aku akan pulang larut lagi.”

“Apakah kau mengunjungi penthouse?”

Setiap kata yang Aoyuki terima hanya terus ia tatap. Tak ada keinginan untuk mengangkat jarinya sedikit pun untuk membalas pesan tersebut dengan segera. Bahkan ia bergeming cukup lama.

Karena sesungguhnya Aoyuki sudah cukup putus asa dan menyerah dengan rencana, hubungan, pernikahan, terlebih lagi mereka.

Beberapa saat terdiam, ia pun membalas.

“Ya, aku di penthouse. Aku tidak akan lama. Tidak apa-apa.”

Di bawah lima menit, Aoyuki telah mendapat balasan.

” ... Baik, aku senang kau mengunjungi penthouse. Tidak perlu buru-buru, aku akan coba pulang dan kita bisa membicarakan rencana pernikahan kita, ya?”

Terdengar seperti kebohongan.

Betapa Aoyuki sangat mempercayai Jyuto sampai ia tak ingin lagi kecewa karenanya.

“Aku tidak bisa berlama-lama. Selamat malam. Aku harus pulang.”

“Setidaknya biar kuantar.”

“Pekerjaanmu sama pentingnya.”

“Aoyuki.”

“Aku ingin sendiri.”

Bertukar pesan itu berhenti di sana. Jyuto berhenti memaksa. Aoyuki pun tak menunggu balasan.

Tidak ada yang perlu diharapkan.

Jyuto tahu akan begini akhirnya.

Sejak hari itu mereka semakin lama tak saling bertemu. Bertukar pesan yang masih terjadi pun Aoyuki yang tak begitu responsif seperti dulu. Hadiah dan buket bunga yang rutin Jyuto kirim ia biarkan menumpuk.

“Kau semakin jarang meninggalkan apartemenmu.”

“Bolehkah aku berkunjung?”

“Setidaknya beritahu aku kau baik-baik saja.”

Semua catatan yang ia tinggalkan di setiap hadiah itu sudah Aoyuki baca, bahkan sudah membalas salah satunya. Sekadar mencoba.

Namun, tak disangka Jyuto benar mengunjunginya.

Meski sedikit terkejut dan tak percaya, masih dengan perasaan yang berat dan berantakan, Aoyuki membuka pintu dan menemui Jyuto di sana.

Jyuto tersenyum tipis. “Kau masih di sini.”

Aoyuki tak menjawab, tatapannya tak bertemu iris Jyuto sama sekali.

Jyuto sedikit menghela napas dan kembali berkata, “Boleh aku masuk?”

” ... Aku yakin kunjunganmu tak akan lama,” jawab Aoyuki akhirnya.

Sesungguhnya itu cukup membuat Jyuto tertegun dan jeda sejenak, sebelum akhirnya membalas, “Begitu? Tapi hari ini aku—”

“Aku masih ingin sendiri,” potong Aoyuki, genggamannya semakin erat di gagang pintunya ini. “Cukup ... bertemu saja di sini. Katakan apa yang ... kau inginkan.” Nada Aoyuki terdengar lelah dan marah di saat yang bersamaan.

Dan benar, mereka kembali bertemu, tetapi hanya cukup sampai di pintu.

Jyuto bergeming, hanya menunduk menatap Aoyuki. Wajahnya semakin tak berekspresi. Tak ada yang tahu jika ia kecewa atau dingin. Namun, yang pasti ia tak berniat melangkahi batasan dan keinginan Aoyuki.

” ... Maaf, ya, semua jadi begini.” Ucapan terdengar pelan sekali membuat Aoyuki menoleh sebelum akhirnya mundur lagi, ketika Jyuto mendekatkan wajahnya dan berhenti.

” ... Tidak boleh mendekat?” Jyuto mengamati ekspresi Aoyuki yang hanya diam. Ia hanya tersenyum tipis mendapati keraguan tersirat di manik ruby-nya. “Baiklah.” Ia menarik diri.

Jyuto menyerahkan setangkai chrysanthemum merah pada Aoyuki.

“Aku akan kembali.” Ia pun beranjak pergi sembari menyalakan sepuntung rokok dan menghembuskan asapnya di udara malam yang dingin.

Sementara Aoyuki hanya menatap chrysanthemum merah di tangan. Seharusnya ia menampar atau lebih baik meninju wajah polisi berkacamata itu.

Hubungan dan komunikasi masih berjalan seperti biasa, kecuali tak ada pembahasan mengenai rencana pernikahan mereka.

Sudah cukup banyak Aoyuki membuang-buang waktu dengan menatap di Yokohama. Jyuto masih sama sibuknya. Pernikahan terus tertunda. Begitu juga Aoyuki, ia sudah seharusnya kembali bekerja.

Terlintas di benaknya bahwa kesibukan dan kerenggangan ini tak biasa. Seolah waktunya tepat untuk memisahkan mereka perlahan. Tak ada penyesalan, Aoyuki hanya kesal jika ia benar masuk dalam salah satu permainan.

Ia meraih ponselnya dan menuju ke salah satu kontak yang enggan ia lihat namanya sekalipun.

Aoyuki menghela napas, sebelum akhirnya sebuah pesan pun ia ketik.

“Kadenokoji.”

Satu pesan tersebut terkirim. Tak ia sangka ia akan segera mendapat balasan dari yang bersangkutan.

“Tsukihana? Jarang-jarang sekali. Aku cukup sebal mendapat pesan darimu.”

Tak pernah Aoyuki harapkan hubungannya dengan Chu-Oh-Ku akan baik.

Pesan baru menyusul.

“Apa yang kau inginkan?”

“Jyuto. Kau atasan langsung orang itu. Apapun yang kau lakukan padanya untuk terus membuatnya sibuk, aku bisa melakukan hal yang sama pada Chu-Oh-Ku.”

“Mulut besar sekali. Aku tidak ada urusan dengannya akhir-akhir ini. Kenapa? Menyesal berhubungan dengan pria? Bagus.”

Aoyuki menggenggam erat ponselnya. Bukan karena ledekan Kadenokoji Ichijuku, tetapi karena pria itu benar-benar sibuk, atas kehendak dan tuntutannya sendiri.

“Benar, pernikahan kalian tertunda tiga bulan terakhir, bukan? Sayang sekali.”

“Aku tak peduli apa yang terjadi, tapi lebih baik tinggalkan saja bajingan yang selalu menarik ucapannya sendiri. Aku tak ingin melihat keluhanmu terhadap Chu-Oh-Ku atas urusanmu pribadimu.”

“Semoga beruntung.”

Aoyuki hanya membaca tiga pesan terakhir dari seorang Ichijuku dan termenung, sebelum akhirnya sebuah panggilan suara masuk.

Jyuto.

Nama yang tertera membuat Aoyuki menatap panggilan masuk itu cukup lama.

Ia pun mengangkatnya.

“Aoyuki? Syukurlah kau mengangkat panggilanku. Aku khawatir kau tidak membalas pesanku seminggu ini.”

“Kau baik-baik saja?”

“Bolehkah aku berkunjung?”

Aoyuki memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya menjawab, “Aku sibuk malam ini. Aku harus mengemas barangku dan kembali ke Tokyo. Cutiku sudah habis.”

Terdengar seperti mengikuti saran Ichijiku. Meski begitu, keputusan Aoyuki sudah bulat untuk tidak lagi menunggu dan membuang-buang waktu mendengar keputusan Jyuto.

” ... Begitu? Aku mengerti, tapi ...

... aku harap ini tak masalah bagimu jika aku menjempumu untuk kencan dan makan malam besok.”

Aoyuki kembali tertegun. Memang seharusnya pria ini dipukul.

Keesokan harinya, malam pun tiba. Aoyuki memasang anting mutiara untuk sentuhan akhir dari dandanannya, kemudian menatap diri yang sudah terias rapi nan cantik dengan gaya serba hitam khasnya; gaun mini, stocking, hak tinggi, dan tas tangan semuanya dalam warna hitam.

Dia nampak menyedihkan menerima tawaran kencan Jyuto, ketika ia pada akhirnya akan meninggalkannya. Toh kesempatan bagus untuk mengucapkan selamat tinggalnya dengan layak.

Sebuah pesan pun masuk. Aoyuki tak perlu menebak sang pengirim sekalipun.

“Kau sudah siap? Aku dalam perjalanan untuk menjemputmu.”

Aoyuki segera membalas.

“Aku bisa sendiri. Kirim saja lokasinya.”

Meski Jyuto tahu bahwa akhirnya akan begini, entah mengapa ia sedikit terenyuh dengan pesan Aoyuki. Terus mengingatkannya pada realita bahwa mereka mungkin sudah tak bisa bersama lagi.

“Baiklah, ini lokasinya. Aku menunggumu di sana.”

Aoyuki segera memesan taksi dan menuju lokasi tanpa membalas apapun pada Jyuto lagi.

Sesampainya di lokasi sebuah restoran kelas atas yang Jyuto kirim, Aoyuki segera menuju reservasi yang segera mengarahkannya ke meja sesuai pesanan. Cukup tak disangkanya bahwa Jyuto sudah lebih dulu di sana.

Postur yang tegap, bukan tegang. Tatapan misterius dan dalam. Masih tetap Jyuto yang sama.

Aoyuki sampai dan berdiri tanpa sepatah kata.

Jyuto segera berdiri dari duduknya segera setelah mendapati Aoyuki sudah di depan mata. Ia menarik kursi untuk wanita tersebut sebelum kembali duduk.

“Aku senang kau hadir,” ucap Jyuto dengan senyum tipis yang hanya dibalas tatapan oleh Aoyuki.

” ... Aku senang kita masih bisa bertemu, Aoyuki,” benaknya.

” ... Kurasa kau tak lagi sesibuk itu bisa datang lebih awal ke sini,” ucap Aoyuki sembari membuka menu yang diberikan pelayan tadi.

Jyuto hanya tersenyum. “Reservasi.”

Aoyuki menatapnya tajam. Antara kesal atau telah mendeteksi kebohongan darinya.

Jyuto sempat terkekeh sebelum akhirnya menjawab, “Maaf, sudah menyusahkanmu dan menunda pernikahan kita.”

Pembicaraan ini pun akhirnya terbuka bersamaan dengan datangnya hidangan pembukaan.

Aoyuki hanya diam menatap dan mendengarkan. Sementara Jyuto perlahan nampak serius dan tenang.

” ... Dan aku berpikir untuk mengurus semua sisanya mulai dari sekarang.” Senyum tipis nan miris masih terukir. “Jadi, ... ” Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis kain beludru merah dari jasnya itu. Membuka tutupnya dan meletakkannya di hadapan Aoyuki, menampakkan cincin pernikahan yang seharusnya sudah terjadi sejak tiga bulan lalu.

” ... Ayo, kita lanjutkan.”

Kalimat itu terucap enteng sekali dari bibirnya. Aoyuki menatap hampa pada cincin yang baru muncul di hadapannya, setelah ia buang jauh harapan bahwa ia akan pernah melihatnya.

Kesal dan kecewa membuat tangannya mengepal dan sedikit menghantam meja membuat apapun di atasnya mulai goyah.

“Setelah aku akan pergi?” ucapnya dengan penuh penekanan. “Kenapa tidak sedari awal?”

Giliran Jyuto yang hanya diam menatap Aoyuki.

“Kunjungan malam itu, makan malam hari ini, hadiahmu yang menumpuk ...

... Kau benar-benar membuatku senang dengan hal-hal kecil dan mengecewakanku dengan hal sebesar dan sepenting pernikahan yang bahkan rencananya tidak sampai setengahnya, ya?”

“Beginikah caramu memperbaiki semuanya?”

Tenggorokan Jyuto seolah kering. Namun, ia mampu mendorong dirinya untuk membalas, “Aku mengerti. Aku sudah banyak menyia-nyiakanmu dan akan wajar jika kau menamparku saat ini.”

Jyuto terkekeh miris. “Jadi, bagaimana kalau kita akhiri?”

Keinginan untuk menampar bajingan di depannya ini sudah sangat meluap dalam diri Aoyuki. Namun, tangan bodohnya ini tak terangkat sedikit pun untuk beraksi.

” ... Aku tidak butuh berpikir dua kali,” ucapnya dan makan malam pun berakhir, begitupun hubungan dan pernikahan mereka sendiri.

Gemerlapnya gedung pencakar langit di Yokohama yang masih belum ia tinggalkan. Lalu lintas yang seolah tak pernah sepi dari kendaraan. Berbagai macam musik terdengar begitu menyebalkan di sepanjang langkah gontai Aoyuki yang menyusuri malam.

Kepalanya tertunduk, langkahnya tak tentu arah, dadanya sesak, tatapannya hampa. Bahkan di kondisi seperti ini, rasa sakit dari hak tingginya tak ada apa-apanya lagi.

Aoyuki mengangkat tangan kirinya, mendapati cincin tunangan bersama Jyuto yang telah menjadi mantan tunangannya beberapa menit lalu masih melingkar cantik nan menyedihkan. Tanpa pikir panjang pun ia melepas dan membuangnya ke tanah. Kenapa perih di dadanya malah semakin menambah?

Sudah cukup bulat ia menginginkan ini. Sudah lama ia ingin berpisah dari Jyuto dan cincin ini. Mengapa pada akhirnya hanya seorang nona yang menangis?

“Bajingan ... ,” isak Aoyuki sembari menghapus dengan hati-hati air matanya sendiri, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya.

“Oh! Aku menemukannya, cincin yang dia buang!”

Mendengar ucapan dari seorang Yamada Jiro di seberang pun membuat Jyuto tertegun sejenak. “Baiklah, tolong berikan kepadaku dan kau bisa berhenti sampai di sini saja.”

“Kau yakin? Aku masih bisa—”

“Sudah cukup, Yamada Jiro.”

Sebelum Jiro bisa protes, panggilan pun terputus membuat lidahnya berdecak.

“Hubungan orang dewasa itu rumit dan tak masuk akal,” gumamnya yang menunggu Jyuto untuk sampai di mana ia berada untuk dapat mengembalikan cincin yang Aoyuki sempat buang.

Menerima cincin tersebut, sudah cukup membuat Jyuto untuk tak perlu mengkhawatirkan dan mengejar Aoyuki lagi. Meski begitu, ia tak lagi mampu menutup dan membohongi perasaannya yang semakin sakit.

Memarkirkan mobilnya dan berjalan pergi menuju jembatan, Jyuto menyalakan sepuntung rokok dan menghembuskan asapnya di udara malam. Menyadari dirinya yang semakin menyedihkan, mungkin ia akan membuang cincin tunangannya di laut Yokohama.

Beberapa langkah hampir mencapai tujuannya, Jyuto terdiam mendapati dirinya berpapasan dengan sosok yang ia anggap tak akan lagi ia temui seumur hidupnya.

Aoyuki sama terdiamnya. Namun, dengan segera mengumpulkan kesadaran untuk secepatnya pergi dari sana.

Tanpa sepatah kata, bahkan puntung rokok pun terjatuh di tanah, Jyuto menangkap pergelangan tangan Aoyuki dan menahannya.

“Yuki, tung—”

Saat pria itu menariknya mendekat, akhirnya Aoyuki bisa melayangkan satu tamparan keras di wajah rupawan yang selalu tenang itu.

Bahkan wajah Jyuto sampai menoleh ke arah lain, tetapi ia tak terkejut sama sekali. Perlahan ia kembali menatap Aoyuki yang sudah menegang dan berlinang tangis.

Aoyuki menggertakkan gigi sembari mengepalkan kedua tangannya seolah menahan air matanya untuk tak terus mengalir saat ia membuka suara.

“Apakah itu sakit? Apakah itu sudah cukup sakit untuk membuatmu mengerti bagaimana aku sangat, sangat membencimu yang dengan tidak adilnya memberikan segalanya di saat yang kuinginkan hanya membenci?”

“Kebaikanmu, kehadiranmu, suaramu, wajahmu, kotamu .... ” Aoyuki terisak yang tersembunyi di balik kedua telapak tangannya. “Aku membuangnya, aku ingin membuangnya, tetapi itu hanya membuatku semakin sedih dan sakit, karena kau yang masih memberikan segalanya.”

Jyuto nyaris mengiggit bibir bawahnya.

” ... Ini semua salahmu .... “ Aoyuki tak mampu menghapus setiap air mata yang mengalir dan tak dapat ia hentikan.

“Kau bodoh dan sangat tidak adil ... !”

Tidak Jyuto sadari jika selama ini ia telah membuat Aoyuki bimbang atas perasaannya sendiri.

” ... Jika aku pergi itu juga tidak akan membuatmu lebih baik, bukan?” ucap Jyuto yang tak dapat di balas oleh Aoyuki yang masih terisak.

“Dan tidak akan ada yang membuatmu lebih baik, Aoyuki.”

Ucapan itu terdengar terlalu tegas membuat Aoyuki menatapnya dengan sedih dan tak percaya.

“Jadi ... ,” Jyuto jeda sejenak, tangannya terulur menghapus air mata Aoyuki. “ ... tinggalkan aku saat kau yakin kau tidak akan menangis melakukannya.

Namun, sampai hari itu tiba dan kau masih menangis seperti sekarang, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku.” Jyuto tersenyum setengah mengejek.

Perlahan kalimat itu memasuki Aoyuki yang masih sedikit terisak. Ia pun cemberut dan kesal di saat bersamaan.

“Bajingan ... ,” gerutunya dengan isak.

Jyuto menghapus habis air mata Aoyuki sekali lagi dan memeluknya.

“Benar,” katanya. “Maafkan aku. Lakukan apapun sesukamu sampai kau memaafkanku.”

Aoyuki hanya bisa terdiam dengan air mata yang akan segera mengalir kembali. Sebelum itu terjadi, ia memukul dan memaki Jyuto lagi.

“Jangan harap aku percaya padamu begitu saja ....”

“Aku tahu, aku masih mencintaimu.”

Aoyuki mendengus. “Bodoh ....”

Jyuto hanya terkekeh, sebelum akhir melepas Aoyuki.

“Kalau begitu, ayo kembali.” Ia mengenggam tangan Aoyuki untuk membawanya bersamanya.

Aoyuki tak bergerak dari tempatnya. Sedikit ragu, kemudian bertanya, “Ke mana? Kau tahu aku harus kembali ke Tokyo.”

Jyuto menoleh. “Tentu saja, aku bisa mengantarmu ke sana,” katanya seolah melupakan ucapannya yang sebelumnya.

Dahi Aoyuki berkerut. “Jadi?”

Jyuto kembali terkekeh. “Ayo kita kembali ke rencana pernikahannya.”

“Atau, ayo kembali ke pernikahan kita,” tambahnya dengan senyum beribu makna.

Aoyuki berdecak kemudian memukul otot perutnya yang segera membuat Jyuto meringis sakit.

“Itu lebih baik ....” Meski menahan sakit, Jyuto tersenyum tipis.

Mereka bergandengan tangan kembali. Tak ada yang berubah dengan kota ini, tetapi semua senang sedih keduanya yang terjadi di kota ini akan menjadi salah satu memori.

“Sudah kubilang aku akan kembali.”

Omake:

Di saat Yamada Jiro mendapat permintaan dari seorang Iruma Jyuto untuk membuntuti seseorang. Namun, tak disangka ini ada sangkut pautnya dengan hubungan mereka.

Toh pekerjaan adalah pekerjaan. Jiro melaksanakannya dengan cukup baik.

Benar, karena di saat pertama kali Jiro menemukan cincin yang Aoyuki buang, ia lupa jika itu adalah milik Aoyuki.

“Oh, mungkin itu milik nenek yang di sana! Dia terlihat mencari sesuatu juga,” ucap Jiro yang entah sadar atau tidak masih tersambung panggilannya dengan Jyuto.

“Apa? Yamada Jiro, apa yang kau lakukan? Itu sudah pasti milik—”

“Nenek! Apakah ini yang kau cari?”

Jyuto yakin seribu persen anak SMA Ikebukuro itu menanyakan cincin yang Aoyuki buang (tak salah lagi) pada sang nenek.

Jyuto menghela napas sebelum akhirnya menegur, “Yamada Jiro, fokus!”

“O-oh, benar! Maaf! Aku hanya mencoba membantu.”

“Jadi bantu aku! Astaga ....”

Pusing Jyuto bertambah. Namun, sepertinya semua terbayar dengan sepadan.

Cincin itu akhirnya kembali ke jari manis Aoyuki.

Thank you for reading. Monday, November 17th 2025.

In A Blink Of an Eye. — Anaxtasia.

Gulita tak menghentikan bisingnya kota dan gemerlapnya cahaya gedung tinggi. Tidak ada hari tanpa menyibukkan diri. Iruma Jyuto pulang kelelahan seperti biasanya malam ini.

Rutinitas yang tak banyak berubah ini membuat kedua tangannya yang mengendalikan kemudi itu seolah bergerak otomatis. Berkendara dengan setengah raga hadir pun tak membuatnya khawatir selain cepat sampai.

Setelah terasa seperti selamanya mengemudi, akhirnya mobilnya akan segera memasuki area parkir penthousenya sebentar lagi.

Sesaat tatapannya yang lelah nan acuh tak acuh ini perlahan melirik ke mana gedung penthouse yang menjulang tinggi tersebut semakin dekat, menangkap sesosok wanita yang bergeming nan hilang dalam lamunan di balkon kamarnya.

Hembusan angin malam menyibak gaun piyama putih dan setiap helai rambut pendek berwarna navynya. Namun, tidak dengan tatapan kosong dari manik rubynya yang terus menatap jauh dan dalam pada gulita.

Wanita aneh yang tak pernah Jyuto lihat sebelumnya. Sepertinya penghuni baru, pikirnya.

Di saat ia akan mengalihkan pandangannya pada jalan, ia yakin manik ruby wanita itu menangkap sosoknya sebelum akhirnya ia kembali masuk ke dalam kamarnya.

Jyuto menaikkan satu alisnya, keheranan. Tak terlalu dalam ia pikirkan, kemudian kembali fokus mengemudi dan memakirkan mobilnya.

Keesokan hari kembali berjalan seperti biasa. Tak banyak yang Jyuto lakukan, jadwalkan, pun pikirkan segera setelah menyelesaikan pekerjaan dan kasusnya hampir semalaman.

Mengemudi dan hampir sampai seperti hari-hari sebelumnya, tetapi tak ia sangka ia kembali menangkap sang wanita yang masih sama berdiri dan melamun di balkonnya.

Sepertinya kebetulan atau memang kebiasaannya?

Jyuto kembali tak memikirkannya terlalu dalam. Tak sedikitpun kecurigaan muncul di benaknya. Entah mengapa ia menghela napas di saat mendapati mereka tak bertukar tatapan seperti semalam.

Tak ia sadari bahwa sesungguhnya sang wanita menangkap penampakan mobilnya sebagaimana ia sudah cukup familiar.

Sama seperti malam sebelumnya, ia pun kembali ke kamar.

Seminggu berlalu dengan rutinitas yang seperti biasa tersebut ditambah dengan Jyuto yang terkadang menangkap sosok wanita yang tak pernah absen melamun di balkonnya itu, seperti hantu.

Tak ada rasa takut, justru curiga mulai terbangun, membuat Jyuto tak terlalu fokus pada menyetirnya itu. Aohitsugi Samatoki dengan rokok di antara bibirnya yang duduk di kursi penumpang di samping tersebut menyadari gelagat mengkhawatirkan dari pria satu timnya itu.

“Hei,” panggil Samatoki. Jyuto masih tak menggubris, hanya menatap lurus pada jalannya seolah fokus mengemudi.

“Jyuto.” Busujima Mason Rio bantu memanggil.

Samatoki mulai berdecak dan barulah Jyuto membuka suara.

“Ah, ya—”

Baru saja ia mengalihkan pandangannya dari jalan pada Samatoki, ia menyadari sekelibat sosok menyebrangi jalan membuat detak jantungnya terhenti sedetik segera sesaat ia menginjak rem secepat mungkin. Naas, mobilnya masih mampu mengenai sedikit sang pejalan kaki. Tanpa pikir panjang Jyuto segera turun dari mobil, menghampiri.

Samatoki dan Rio yang sempat tertarik ke depan oleh gravitasi menatap Jyuto yang telah keluar dari mobil.

“Ap—Bajingan, hei!” Samatoki berseru, terkejut dengan semuanya yang begitu cepat terjadi.

“Sepertinya ia mengenai pejalan kaki itu. Ayo,” ajak Rio yang ikut turun dari mobil.

Napas Jyuto sedikit terengah-engah dan segera berlutut di samping sang pejalan kaki yang diduga seorang wanita. “H-hei, kau baik-baik saja!?” tanyanya setengah panik.

Sang wanita yang tersungkur di tanah pun mengangkat wajah, bertemu tatapannya dengan si pengendara. Seseorang yang sama yang ia lihat setiap kali ia berdiam di balkonnya.

Jyuto semakin terkejut, tak mampu berkata-kata.

“Oi, Jyuto! Di mana otak dan matamu, hah!?” Samatoki kembali berseru, berteriak bahkan. “Hei, kau, jangan diam saja. Apakah kau baik-baik saja? Pria ini sedari tadi memang seperti kehilangan akalnya,” ucap Samatoki pada wanita tersebut, si korban.

Tsukihana Aoyuki pun akhirnya bersuara. “Y-ya ... Aku mengerti. Maaf, sepertinya ini juga karena kecerobohanku. Tidak masalah. Aku tidak terluka,” ucapnya yang perlahan berdiri. Luka gores di lutut dan kakinya mulai terlihat.

Jyuto segera berdiri. “Kau terluka,” ucapnya serius. Bahkan tangannya seolah menghadang wanita tersebut melangkah lebih lanjut.

Orang-orang mulai berkumpul. Suasana sedikit riuh, terlebih mengingat Jyuto adalah Sersan Polisi itu sendiri tak biasanya membuat gaduh.

” ... Biarkan aku membawamu ke rumah sakit,” paksa Jyuto.

Aoyuki menghela napas.

Setelah perdebatan kecil yang cukup panjang, mereka sepakat untuk mengantar Aoyuki pulang atas permintaannya.

Samatoki mengernyit heran sesaat Jyuto mengemudi seolah mengetahui tempat tinggal wanita yang ditabraknya.

“Kau tahu di mana wanita ini tinggal?” nadanya penuh curiga.

Jyuto jeda sejenak, kemudian menjawab, “Kurang lebih.”

Samatoki hanya mendecih.

Sementara Aoyuki hanya diam di kursi penumpang belakang bersama Rio di sampingnya. Sesaat ia sedikit melirik pada Jyuto yang sempat melirik padanya melalui spion. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada jendela.

Bukan canggung pun tak nyaman, hanya perasaan aneh yang tak biasa.

Tiga hari setelah kejadian tersebut pun berlalu. Meski satu penthouse, Jyuto dan Aoyuki tak pernah bertukar sapa sejak saat itu. Namun, Jyuto tak pernah ragu untuk melirik pada balkon kamar Aoyuki setiap malam sepulangnya ia dari bekerja yang nyaris seharian penuh, memastikan bahwa wanita yang tak pernah ia kenal itu benar-benar baik-baik saja meski lukanya tak serius.

Dan Aoyuki selalu berada di balkonnya tersebut. Tak pernah luput dalam menangkap tatapan dari manik emerald Jyuto di bawah sana yang cukup jauh itu.

Anehnya, Aoyuki tak merasa keberatan akan hal itu. Namun, ia juga tak mengerti mengapa ia merasa lebih baik dengan hal-hal remeh dari seorang asing bernama Jyuto tersebut.

Ia ingin merasakan dan memahami perasaan dalam dirinya lebih dalam lagi. Sayangnya, setiap ia melihat ke bawah balkon penthouse yang megah nan tinggi ini lebih membuatnya tertarik dan semakin tertarik ....

” ... Aku bertanya-tanya apakah dia masih tetap bisa melihatku jika aku tiada ....” Ia menyerah, tetapi nadanya terdengar sendu mengatakannya.

Tak terasa telah memasuki minggu pertama bulan baru yang mana hampir sebulan Jyuto bertukar tatap dengan Aoyuki di setiap pulangnya itu. Meski semuanya telah baik-baik saja, Jyuto ingin mengerti mengapa ia terus mencari sosoknya di balkon sana.

Entah risiko rutinitas atau memang untuk melepas kekhawatiran, karena tak dapat dipungkiri ia merasa nyaman dan kosong di saat bersamaan setiap sosok Aoyuki yang berada di balkon dengan pemandangan cukup tinggi itu terbayang.

Perasaan aneh yang tak biasa.

” ... Apakah dia selalu menunggu di atas sana .... “

Jeda sejenak, ia bergumam kembali. “ ... Apa yang ia tunggu di atas sana .... ” Nadanya terdengar takut dan cemas.

Hari terus berlalu dan Jyuto bekerja larut seperti biasanya. Beberapa polisi dan pemula juga di sana.

Hingga di saat pekerjaannya hampir selesai dan ia berkemas bersamaan dengan polisi lainnya, pos polisi tersebut mendapat laporan adanya seorang korban tergeletak tak bernyawa dengan dugaan jatuh dari ketinggian.

Alamat yang diberikan adalah penthouse tempat Jyuto tinggal. Dahi Jyuto mengernyit memproses keadaan, memikirkan kemungkinan, perasaan campur aduk dan cemas. Ia bersama bawahannya yang lain bergegas ke tempat kejadian perkara.

Dalam perjalanannya yang mulai semakin dekat dengan penthouse tersebut, ia mencuri kesempatan untuk mencari sosok Aoyuki di balkonnya seperti biasa itu.

Tidak ada.

Kata-kata yang muncul seketika sosok yang dicari tak ia temukan. Kecurigaan dan kecemasannya sedikit meningkat. Sesungguhnya ia tak tahu apa yang ia harapkan pun pikirkan, selain segera sampai di tempat.

Segera setelah sampai di tempat kejadian perkara, ambulans dan pemadam kebakaran telah mengelilingi sekitar. Orang-orang semakin ramai berdatangan. Polisi lainnya segera mengamankan tempat. Dan Jyuto memasuki garis polisi dan mendapati Samatoki dan Rio tak jauh dari korban yang telah tertutup kain, tetapi bersimbah darah tersebut.

“Samatoki? Rio?” nadanya tak percaya, tangan Jyuto mengepal. “Jangan katakan kalau—”

“Simpan basa-basi itu,” potong Samatoki segera, kemudian membuang puntung rokoknya dan menginjaknya. “Kau mungkin harus melihatnya sendiri.” Nadanya terdengar sendu dan didukung dengan Rio yang mengangguk.

Jyuto menelan ludahnya dengan susah payah. Ia pun melangkah menuju mayat korban yang berada di tengah-tengah polisi, pemadam kebakaran dan perawat tersebut.

“Ah, Sersan—”

Tanpa menunggu penjelasan dari salah perawat tersebut, Jyuto menyibak kain yang menutup korban itu. Sekujur tubuhnya pun kaku, napasnya terhenti dan tatapannya kosong menatap mayat yang tergenang cairan merah tersebut.

Rambut pendek berwarna navy itu, manik ruby yang kehilangan cahayanya itu, gaun piyama putih yang ternoda genangan darah itu. Jyuto jatuh pada lututnya seketika Tsukihana Aoyukilah korban tersebut. Cairan merah membasahi lutut Jyuto yang masih tak percaya dan terkejut.

“S-Sersan? Apakah—”

“Diamlah. Dia mengenalnya. Itu saja yang perlu kau tahu untuk sekarang,” tegur Samatoki dari belakang Jyuto pada sang perawat.

Jyuto yang masih kaku perlahan mengulurkan tangannya meraih tubuh dingin Aoyuki yang setengah hancur dan tergenang darah tersebut. Tangannya gemetar hebat, napasnya tak beraturan, tenggorokannya sakit menahan jerit dan emosi di saat bersamaan.

“Bangun ...,” gumamnya.

Jyuto menggertakkan giginya. “Bangun!!” teriaknya sembari merengkuh kedua bahu remuk mayat Aoyuki.

“Jyuto!!” Samatoki dan Rio berusaha menghentikan Jyuto.

Jyuto yang terbutakan emosi dan amarah itu mampu melepaskan diri dari kedua rekannya. Melayangkan tinju pada mayat Aoyuki yang tak sempat Samatoki dan Rio hentikan. Namun, tinjuan itu mendarat di samping kepala Aoyuki, masih di genangan darahnya.

“AOYUKI!”

Bahkan tangan yang terbalut sarung tangan merah tersebut tak mampu menutup kenyataan bahwa darah Aoyuki tertinggal di situ.

Tidak terbesit dipikirannya untuk semua hal aneh pun kebetulan bahkan sampai kematian Aoyuki yang membuat pengaruh hebat pada hidupnya.

Tiga bulan berlalu dan Jyuto masih setia mengalihkan pandangannya pada balkon kamar Aoyuki tersebut.

Sedih, sendu, kosong selalu setiap kali ia menatap ke atas sana. Namun, sesaat, tawa menyedihkan lepas dari mulutnya.

” ... Apakah kau selalu menunggu di atas sana?”

... Apa yang kau tunggu di atas sana ... ?”

Hembusan angin membuat Aoyuki mengalihkan pandangannya pada cerahnya hari yang menembus pada dirinya. Sesaat ia merasakan sendu dan sepi, sebelum akhirnya melihat ke bawah. Ia bisa melihat Jyuto yang melihat tepat ke arahnya yang tak beraga.

” ... Kau masih bisa melihatku meski aku tiada?”

” ... “

“Aku melihatmu.”

Aoyuki tak mengharapkan jawaban tersebut terdengar dari bibirnya.

Di bawah langit biru yang cerah ini, Jyuto merasakan setitik air jatuh di pipinya. Sudah cukup membuatnya tersenyum tipis dan percaya bahwa Aoyuki akan selalu di atas sana.

Thank you for reading. Monday, November 3rd 2025.

Tho I Don't Know You, Yet: Don't Go. – Anaxtasia.

• Warning: Suicide, Gore.

Bunga-bunga cantik yang layu, kering dan mati, kehampaan yang mengelilingi Tsukihana Aoyuki, dan ketakutan serta kegelisahan yang ia rasakan saat bersentuhan dengan kelopak warna-warni indah di sekitarnya pun membuatnya merasa bersalah dan frustasi.

Seburuk itukah ia sampai-sampai merusak dan tak layak bersentuhan dengan keindahan? Seolah sebuah kebenaran bahwa ketidaksempurnaannya itu merusak, merugikan. Aoyuki pun berdiam diri di tempat, enggan dan takut merusak lebih banyak bunga di sekitarnya, meski kegelisahan dan frustasinya menumpuk dalam diri bahkan semakin berantakan.

Sembari menggenggam erat kedua tangannya, gadis berambut navy pendek dengan manik permata berwarna ruby tersebut mengamati sekitar, walau ia tahu tak akan ada apa-apa kecuali ia, bunga mati dan kehampaan yang nampak tiada ujungnya.

” ... Benci ... ,” gumam Aoyuki yang sesaat gemetar. Dengan enggan pun ia memutuskan untuk melangkah dari tempat. Setiap langkahnya membuat lebih banyak bunga layu seketika. Kenapa? Ia semakin merasakan bersalah, pedih dan marah pada dirinya.

Hingga akhirnya ia berhenti lagi, mendapati pemandangan indah lainnya yang tak begitu jauh dari tempatnya saat ini. Sebuah pemandangan indah bunga clematis yang masih hidup, segar dan cantik melihat bagaimana banyaknya bunga yang mati di setiap langkah dan sekitar Aoyuki saat ini di sini.

Ia kembali takut dan ragu untuk mendekatkan diri lebih dekat lagi untuk memuaskan rasa tertariknya ini.

Namun, sekelibat warna merah di antara cantiknya ungu sang clematis pun sukses membuat Aoyuki memutuskan untuk mendekatinya saja. Apapun risikonya dia tanggung walau tak mengenakkan nantinya.

Sesaat beberapa langkah dekat dengan sekelompok clematis tujuannya, Aoyuki memelankan langkahnya seketika menyadari sesosok tubuh laki-laki terbaring damai di tengah-tengah kecantikan clematis sembari mendekap sebatang kamelia di dadanya, begitu erat dan aman seperti melindunginya. Aoyuki tak menyangka.

Namun, tak dapat ia ketahui siapa melihat bagaimana clematis tumbuh begitu subur hingga menutupi hampir seluruh wajah sang pria, walau ia sepertinya berada di posisi bertepatan dengan kepala sang pria, ia pun semakin bertanya-tanya.

” ... Mati ... ?” gumam Aoyuki yang perlahan mencoba meraih sang pria, walau sedikit berjarak darinya.

Rasa penasarannya pun membuatnya tanpa sadar melangkah semakin dekat, tak disangka ia mulai berlutut berhadapan dengan kepala sang pria juga. Bahkan dengan jarak sedekat itu Aoyuki hanya bisa melihat bibir dan dagu sang pria dari sela-sela clematis di sekitarnya. Benar, tangannya pun terulur pada wajah sang pria dan menyibak clematis yang menghalanginya.

Tangannya bersentuhan dengan clematis-clematis di sekitarnya dan akhirnya tangannya pun bersentuhan dengan kulit wajah rupawan sang pria.

Oh, bukankah sentuhannya menyebabkan benda dan makhluk hidup mati seketika?

Aoyuki terkesiap, ia baru menyadari apa yang tak seharusnya ia lakukan, ketakutan kembali menyerang. Bahkan ia sampai gemetar dan sedikit berkeringat sampai-sampai tak dapat, tak sempat mengenali wajah sang pria yang baru saja disentuhnya.

Namun, sebelum ia sempat menarik tangannya, manik rubynya melebar sesaat bertemu dengan manik biru cerah milik sang pria.

Dia terbangun? Dia hidup? Pikirnya.

Lidah Aoyuki semakin kelu tak percaya, bahkan tangannya tak berpindah dari pipi wajah sang pria.

” ... Aoshi...!” Tiba-tiba pria tersebut membuka suara. Aoyuki segera tersadar dari lamunannya. Namun, ia senakin terbelalak sadar sesaat ia mampu mengenali pria yang ia sentuh pipinya dan bangunkan dari tidurnya.

“S-senpai ... ?” ucap Aoyuki begitu saja. “K-kenapa? Bagaimana bisa kau di sini ... ?”

Benar juga, tempat apa ini? Aoyuki tak sempat menganalisis sekitar rupanya sebagaimana ia larut dalam sakit dan sedih.

” ... Napasku ... ?” Aoyuki terbelalak tak percaya seketika menyadari ia tak merasakan pergerakan paru-parunya, terlebih detak jantungnya.

“S-senpai ... !”

Semuanya terjadi begitu saja—Aoyuki tak sadarkan diri setelahnya.

Kelabu mulai menyelimuti langit, gemuruh  petir membangunkan Nagao Kei.

Ia membuka mata perlahan, tatapan sayu nan mengantuknya menganalisis sekitar. Ah, kenapa ia masih hidup? Ia melihat pergelangan tangannya, terletak pisau tak jauh darinya. Sepertinya ia pingsan dan percobaan bunuh dirinya gagal. Sial, pikirnya.

Tak ada pilihan lain, ia pun beranjak dari lantai tempat ia tertidur semalaman. Ada sekolah yang harus ia jalankan, setelah kehilangan temannya untuk yang kesekian. Kei gagal dalam misi memimpin pertamanya yang menyebabkan pengusiran setan semalam berakhir dengan kekacauan bahkan memakan korban, salah satunya sang teman.

Sudah menjadi risiko yang ia ketahui jika menjadi pengusir setan adalah pekerjaan yang berbahaya bahkan mampu merenggut nyawanya kapan saja. Namun, apakah melihat nyawa teman-temannyanya satu persatu gugur adalah risikonya juga?

Kei mulai mempertanyakan apakah pengusiran setan yang ia lakoni adalah benar jika tak mampu melindungi orang-orang yang ia sayangi.

Kei melihat keluar jendela, mendung masih menghiasi langit sana, hujan belum turun rupanya. Ia memutuskan segera berangkat tanpa ekspresi, tanpa semangat, hanya dengan payung di tangannya.

Jika saja waktu berhenti dan ia menghilang atau lebih baik mati ... Seperti sebuah hukuman dan siksaan batin melihat satu-persatu temannya gugur, sementara ia masih bernapas, hidup, bertahan di sini, saat ini.

Hidup memang tidak adil atau memang menyedihkan seperti ini? Pikir Kei.

Bel sudah terdengar sampai depan gerbang sekolah ketika Kei menginjakkan kakinya. Namun, ia berhenti sesaat ia mendapati sesosok gadis dengan seragam satu sekolah dengannya berdiri di tepi jembatan. Tak dirasakan adanya aura gelap nan mistis darinya, sudah pasti ia manusia terlihat bayangan di bawah kakinya. Kei menghela napas.

Tatapannya kosong, badannya pun sangat menempel dengan pembatas jembatan, semakin mengosongkan diri sampai perlahan ia akan terjatuh ke sungai bawah sana. Namun, sang gadis terkejut sesaat merasakan tarikan kuat di bahunya. Oh, sang Ketua OSIS rupanya.

“Hei, aku tanya, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kei sekali lagi, ketika hanya mendapat respon diam dan lamunan dari sang gadis sebelum akhirnya ia mengkerutkan dahi. “Ah, kau gadis 2-A itu, bukan? Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak dengar bel sudah berbunyi?”

Sang gadis mengerjapkan matanya. “A-aku ... Ah, ya ... maafkan aku, Senpai,” ucapnya sedikit tergagap.

Kei menghela napas. “Siapa namamu?”

“Eh ... ?”

“Siapa namamu.”

Sang gadis menggelengkan kepalanya sejenak, ia masih merasakan efek dari lamunannya sendiri. “Tsukihana ... Aoyuki,” jawabnya.

“Aoyu... Ah, terserahlah,” gerutu Kei. “Lagipula, Aoshi, cepat kembalilah ke sekolah. Aku tidak mau membuatmu repot-repot menjalani hukuman,” tambahnya.

Kei menghela napas. “Aku juga tak mau repot menghukummu.”

Aoyuki mengangguk sebelum akhirnya membungkuk hormat sedikit dan berlari kecil kembali ke area sekolah.

Kei mengamati sang gadis menjauh, memasuki area sekolah. Masih bertanya-tanya apa yang gadis itu lakukan di tepi sungai. Seperti menunggu dirinya sendiri jatuh ke sana berdasarkan penglihatannya.

Entahlah, apapun itu, setidaknya tak semua itu benar-benar terjadi dan gadis tersebut telah masuk ke sekolah lagi.

Ia pun memutuskan untuk menyusul sebelum akhirnya langkah kakinya terhenti sesaat merasakan seseorang menarik pergelangan tangannya, Kei menoleh ke belakang.

“Maaf, aku tahu kau mungkin masih bersedih, tapi aku butuh bantuanmu dalam misi darurat saat ini.” Salah satu kolega sekaligus temannya itu berkata.

Kei mengernyitkan dahi, curiga. “Bukankah misi sebelumnya selesai tak berjejak?” tanyanya.

Sang kawan pun dengan sedikit ragu menyerahkan selembar kertas berisikan peta dan rincian misi yang ia bicarakan.

Kei mengambil dan membaca isi tersebut, kemudian kembali menatap sang kawan dengan dahi yang semakin berkerut. “Bukankah jelas ini jebakan ... ? Bukankah kita setuju bahwa area utara dari tempat kita melawan iblis itu ditutup dan terlarang?” Ia semakin curiga dan khawatir juga.

“Tapi Ketua ingin kita menyegel tempat itu  untuk memastikannya aman. Dia bilang seharusnya kau tahu itu.”

Kei terdiam, mendecih, hingga akhirnya menghela napas. “Apakah ketua ikut?”

Sang kawan menggeleng. “Maka dari itu aku mengajakmu, meminta bantuanmu, karena dari yang dikatakan Ketua pun dia memintamu untuk ikut,” jelasnya.

Tanpa sadar Kei meremas kertas mengenai detail misi mereka. Ah, rasanya seperti disengaja diseret ke dalam masalah yang beruntun sebelum ia benar-benar tak berdaya.

Kek menghela napas sekali lagi. “Baiklah, ayo.” Ia tak punya pilihan lain, selain ikut pergi.

Perasaan tak enak dan tak yakin masih menghantui benaknya sampai detik ia menginjakkan kakinya kembali di tempat di mana ia dan tim yang ia pimpin saat menjadi pemimpin pertama kalinya berjuang mati-matian melawan iblis kemarahan. Dan yang menjadi tempat di mana ia kehilangan seorang teman untuk yang kesekian.

Entah takut atau ragu, Kei merasa bukan hal tepat untuk saat ini kembali ke area musuh.

Dan benar saja, setelah beberapa langkah jauhnya memasuki area musuh pun alas kakinya telah berpijak pada tanah dengan darah segar yang masih menggenang. Ini benar jebakan.

Sang iblis keluar dari persembunyian, rupanya mereka masih ada di sana, berevolusi menjadi sekumpulan kebencian yang merepotkan dan mematikan.

Karena energi jahatnya, kebenciannya begitu kuat mempengaruhi pengusir setan (Exorcist) lainnya. Membuat mereka melawan satu sama lain dan kembali membuat kekacauan.

“Fokus! Jangankan kosongkan pikiran!” seru Kei dengan segera memerintahkan sisanya yang tak terpengaruh untuk segera membentuk formasi segel mengelilingi iblis tersebut.

Namun, iblis itu nampak menargetkan sesuatu, seseorang. Kei dengan cepat menyadari ia mengarah pada sang kawan yang meminta bantuannya dalam misi ini.

“Tetsu—!”

Iblis tersebut membuatnya, sang kawan, Tetsu, memenggal kepalanya sendiri di depan matanya. Tanpa aba-aba, tanpa tanda, belum sempat berbuat apa-apa, sekali lagi, ia kehilangan dan menyaksikan kematian tragis nan sadis yang diperbuat sang iblis terhadap temannya.

Kemarahan Kei pun meluap, berteriak seolah mengguncang langit dan tanpa diketahui ia menghabisi iblis itu sendiri.

Gulita menyelimuti langit, Genzuki Tojiro semakin khawatir. Ia menghela napas dan kembali membereskan meja OSIS.

Kaida Haru tentu saja menyadari. “ ... Kei?” tanyanya.

Genzuki mengangguk dengan lesu, pria itu menjadi orang pertama yang paling peka dan sensitif terhadap rasa khawatir pada sahabatnya.

Haru menghela napas juga. “Ah, orang itu seperti biasa menghilang begitu saja,” keluhnya. “ ... Aku kesal dia tak pernah meminta bantuan pada kita ....” Sebenarnya Haru bergumam sedih.

” ... Dia juga tak terlihat baik akhir-akhir ini ....”

Haru dan Genzuki pun baru saja keluar dari ruangan OSIS dan berpapasan Kei baru saja keluar dari UKS sekolah setelah mendapat perawatan lukanya dari pertarungannya dengan iblis tadi.

Ah, pertarungan, ya? Ia tidak mau mengingat detailnya lebih banyak lagi.

Sudah cukup.

“Kei/Kei-kun!”

Kei sontak mengangkat kepala dan menoleh ke arah sumber suara di mana dia sahabatnya segera menghampirinya.

“Syukurlah kau tidak apa-apa!” ucap Genzuki dengan haru.

“Hei, apakah kau tahu bagaimana kami sangat mengkhawatirkanmu, hah? Sudah yang keberapa kau menghilang tanpa kabar dan kembali begitu larut?” omel Haru.

Kei terdiam sebelum akhirnya memasang senyum tipis dan kekeh. “Ahaha, maaf, ya, memang banyak sekali misi dadakan belakangan ini. Tapi, tidak apa-apa! Aku bisa mengatasi semuanya! Semuanya dalam kendali!” ucapnya dengan bangga, (seperti yang dia harapkan).

” ... Sungguh?” tanya Genzuki.

Kei kembali terdiam, selalu, sebelum akhirnya bisa menjawab. “Tentu saja! Aku ini sangat terlatih tahu!”

Haru menghela napas. “Bagus, sudah cukup dengan bualanmu dan sekarang ayo pulang,” ucapnya setengah sarkas sembari menarik kerah belakang Kei.

“Eh, eh!” Kei buru-buru melepaskan diri. “K-kalian tunggu aku di gerbang saja! Ada hal yang harus... kuperiksa, ya, 'kan? Yaa ... kau tahu! Sebagai Ketua OSIS hanya ingin memastikan semuanya aman? Haha ... ,” kekeh Kei setengah gugup.

Haru dan Genzuki hanya menatap seksama Kei sebelum akhirnya menatap satu sama lain, kemudian mengangguk bersamaan.

“Baiklah ... , kita tunggu. Lebih baik kau cepat.”

“Iya, iya!”

Segera setelah kedua sahabatnya itu berjalan pergi, senyum Kei yang ia pasang sedari tadi luntur dalam hitungan detik. Sejujurnya senyum itu membuatnya sakit mengetahui tak ada perasaan bahagia selain tak ingin membuat keduanya khawatir.

Kei pun berjalan menelusuri lorong sekolah yang telah sepi dan remang-remang ini ke kelas untuk mengambil tas dan barang-barangnya sebelum pulang. Langkahnya gontai dengan tatapan kosong seolah-olah ia akan jatuh menghantam lantai kapan saja. Badannya pun semakin berat membuatnya bersandar pada dinding dan terjatuh terduduk akhirnya. Tatapan kosongnya masih ada di sana sedang mengamati langit-langit koridor sekolah.

Sial, kesunyian lorong sekolah ini membuat kesedihannya terasa, bercampur aduk dengan ketakutan dan kemarahan. Kei ingin membuangnya, Kei ingin menghilangkannya, Kei ingin membunuh perasaannya.

Sakit itu bertumpuk di tenggorokannya. Terlalu banyak yang ia tahan, terlalu lelah untuk berteriak, air mata pun membasahi pipinya.

Oh, inikah rasanya dibenci kehidupan? Ia melakukan yang terbaik, benar-benar berusaha melakukan yang terbaik, tetapi sepertinya tak juga cukup untuk melindungi hal berharga dan ia sayangi?

Kei pun menangis, sesenggukan sepuasnya berpikir tak lagi ada seorang pun di sini.

Sementara itu Aoyuki baru saja keluar dari perpustakaan, menguncinya kemudian pergi meninggalkan tempat. Menelusuri lorong remang-remang dengan hati-hati sebelum akhirnya terhenti mendengar lirihan seseorang menangis.

Ia mencoba mengikuti suara lirih tangis tersebut, hingga sampailah ia pada sosok Kei yang memeluk lutut dan menangis tersebut.

Aoyuki buru-buru bersembunyi dibalik tembok sesaat mengetahuinya. Menatap ujung sepatunya sembari mendengar jelas tangisan sang kakak kelas.

Tangisan kehilangan, rasanya membawanya kembali pada ingatan dua hari lalu saat di mana sang nenek dibunuh dan dengan keji dibuat seolah ia bunuh diri dengan menggantung diri oleh mafia-mafia yang kakeknya tangani sebagai detektif ini.

Dan Aoyuki sebenarnya bisa menangani, menghabisi mereka jika tak dihalangi. Ia masih tak mengerti mengapa sang kakek melarangnya dan membawanya pergi sebelum ia sempat menyentuh tubuh sang nenek yang telah mati dan mendingin.

“Apakah kau tidak mengerti kau bisa saja lepas kendali!? Bisakah sekali saja aku melindungimu, Aoyuki!?”

Dada Aoyuki kembali sesak dan sakit. Matanya pun memanas, siap menangis lagi.

” ... Pasti sakit, ya,” batinnya.

Ia memejamkan matanya, menghela napas, membuka matanya kembali dan memutuskan untuk menampakkan dirinya dan mendekati Kei yang menangis sesegukan seorang diri di sana.

” ... Senpai ....”

Kei terkesiap sedikit mendengar jelas suara seseorang. Ia segera mengangkat wajah dan mendapati Aoyuki dan tangannya yang telah terulur memberi sapu tangan biru langitnya. Ia segera membuang muka.

“A-apa yang kau lakukan di sini ... ,” tanya Kei seolah menutupi wajah menyedihkannya yang sehabis menangis.

Aoyuki diam sesaat sembari mengamati Kei. “ ... Aku baru saja selesai mengerjakan ujian susulan di perpustakaan,” katanya.

“Kalau begitu pulanglah.” Kei masih membuang muka. “Sudah terlalu malam untukmu masih di sini.”

Aoyuki masih mengamati, hingga akhirnya menghela napas. “ ... Senpai.” Ia terus menyodorkan sapu tangan miliknya pada Kei.

Kei hanya diam dan terus membuang muka. Aoyuki pun tetap mengulurkan tangannya pada Kei dengan sapu tangan masih di tangannya.

Kei pun mendengus dan dengan seolah terpaksa ia pun mengambil sapu tangan tersebut.

Tentu saja ia masih diam. Namun, ketika mengintip wajah dan ekspresi Aoyuki yang tak tergerak bahkan mengatakan sesuatu pun membuatnya menghela napas.

“Terima kasih,” kata Kei.

Aoyuki terus mengamati saja, kemudian duduk dengan jarak di samping Kei.

Kei mengalihkan atensinya sepenuhnya pada Aoyuki yang duduk berjarak darinya.

“Aku sudah mengucapkan terima kasih, kenapa kau masih di sini?” Kei bingung.

“Aku tahu,” jawab Aoyuki sederhana. “ ... Aku hanya ingin memastikan Senpai benar-benar baik-baik saja.”

Kei terdiam, seketika terenyuh meski sesaat sebelumnya ia begitu sedih dan sakit rasanya. Ia melihat ke arah sapu tangan Aoyuki di tangannya.

” ... Kau merepotkan dirimu sendiri,” kata Kei, merasa miris.

“Aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya di sini, menemani, dan diam.”

Kei terus menatap sapu tangan Aoyuki di pinjamkannya padanya, kemudian menghela napas.

“Terserah padamu.” Ia pun kembali memeluk lututnya, menggenggam sapu tangan Aoyuki yang belum ia gunakan untuk menyeka air matanya yang mengering di pipinya.

Sementara Aoyuki pun seperti yang ia katakan, hanya diam.

Hening, kembali sunyi, tetapi Kei tak merasakan sepi. Entah kenapa terasa nyaman dan aman sedikit. Padahal ia tak mengetahui siapa Aoyuki, saking pendiamnya gadis ini, bahkan seolah tak terlihat di sekolah ini.

Namun, dirasakan dari energinya, Aoyuki sosok dingin yang aneh dan unik ....

Padahal sebelumnya ia merasakan perasaan bunuh diri saat di sungai ia bertemu dengan Aoyuki pagi ini.

Ah, mungkin saja kesalahannya dalam membaca dan merasakan energi, bukan?

” ... Dua orang di dekat gerbang sekolah itu temanmu, 'kan, Senpai?” Ucapan Aoyuki memecah hening pun membuat Kei menatapnya.

” ... Sepertinya mereka menunggumu? Kalau begitu, jangan terlalu lama dan cepatlah menyusul.”

Ah, ya, Genzuki dan Haru. Benar, dia seharusnya fokus dan melindungi dua orang sahabatnya itu. Tidak ada lagi yang pergi, sebelum ia bisa melakukan yang terbaik dalam melindungi, harus.

Pagi cerah tak banyak membuat suasana hati Kei berubah. Namun, dengan kehadiran Haru dan Genzuki membuatnya tak merasa sendirian menghadapi kesedihannya, perlahan ia masih bisa tertawa. Terima kasih kepada dua sahabatnya yang masih ia punya dan yang menyadarkannya bahwa masih ada hal berharga yang masih dan harus ia lindungi juga.

Mungkin Aoyuki juga termasuk secara ia tanpa disadari juga membantu?

Sepertinya Kei juga harus berterima kasih pada gadis misterius itu.

Sampailah ketiganya hendak menyebrang jalan. Menunggu lampu berubah warna sembari melakukan obrolan ringan dan candaan.

Hingga mata Kei tertuju pada sosok tak asing di seberang jalan lainnya. Ia Aoyuki yang membuatnya bingung sebelum akhirnya terbelalak dengan penampilan Aoyuki yang penuh luka dan darah yang nampak mengering di tubuh dan piyamanya—orang-orang di sekitarnya pun terkejut dan tak percaya. Tatapannya kosong ke arah lalu lintas.

Oh, aura bunuh diri? Rasanya Aoyuki sama seperti yang ia rasakan saat bertemu dengannya di sungai dekat sekolah tempo hari.

Kei meneguk ludahnya. “Aoyuki ... Itu Aoshi, 'kan?” Ia masih tak percaya.

“Aoyuki?” Genzuki mengikuti arah pandang Kei ke seberang jalan.

“Astaga ... ! Dia berlari akan menerobos lalu lintas!” seru Haru panik.

Pejalan kaki lain di sekitar sana pun ikut histeris.

Kei terkesiap, napasnya seolah terdekat ketika benar melihat Aoyuki berlari menyebrang melintasi lalu lintas yang masih ramai dengan kendaraan, bahkan sebuah mobil melaju cukup cepat siap untuk menghantamnya. Tubuhnya pun segera bergerak, berlari meraih Aoyuki secepatnya.

“Aoshi!” Kei mengulurkan tangannya, menarik Aoyuki cepat dan cukup kasar, kemudian segera mendekapnya.

“Kei/Kei-kun!!”

Kecelakaan pun terjadi dengan dua orang korban siswa-siswi SMA dilarikan ke rumah sakit.

Tarikan napas panjang nan mengejutkan terdengar dari Kei yang tiba-tiba membuka mata, kemudian terduduk dengan panik dan cemas.

“Aoshi!?”

“Kei-kun!?”

“Astaga, tenangkan dirimu!”

Kei masih terengah-engah. Khawatir, takut, dan cemas menjadi satu membuat badannya seolah memanas. Ia melihat Genzuki dan Haru bergantian.

“Aoshi!? Di mana dia? Dia hidup, 'kan? Masih hidup, 'kan?” tanyanya sedikit memaksa, sebelum akhirnya ia meringis merasakan bahu dan lengannya yang diperban dan disokong alat bantu tersebut berdenyut sakit. Ah, ia mengalami cedera bahu rupanya.

“Lihat!? Aku bilang tenangkan dirimu!” tegas Haru melihat Kei yang sudah kesakitan, tetapi malah panik begitu.

“Kita tidak tahu, kita tak bersamanya ... ,” lanjutnya dengan jeda sejenak.

... yang pasti ia bisa diselamatkan meski kehilangan banyak darah ... Terima kasih kepada golongan darahmu yang sama dengannya.”

Kei tenang sedikit. “A-apakah dia sudah sadar?” tanyanya cepat.

“Dari yang kudengar, Dokter mengatakan dia koma, untuk sekarang,” timpal Genzuki dengan wajah khawatir.

“Kalau begitu aku harus melihatnya sekarang!”

“Si bodoh ini!”

“K-kumohon?”

Haru terdiam sebelum akhirnya menghela napas kasar.

Mata Aoyuki terbuka lebar begitu saja dari komanya. Kardiograf di sampingnya menunjukkan detak jantungnya yang sedari lemah sekarang meningkat seketika, mengidentifikasi bahwa ia sadar pun terkejut dan cemas.

“Oh, Nona Tsukihana, syukurlah akhirnya Anda sadar,” ucap salah satu perawat di sana segera menghampirinya.

“Tenang, tenangkan dirimu,” katanya lagi.

Sementara Aoyuki masih terbaring sembari mengobservasi sekitarnya ini.

Ah, apa yang terjadi?

Benar, bukankah ia menabrakkan diri pada mobil dan sudah hampir mati? Bagaimana bisa ia hidup di sini?

Dan kenapa kakek dan neneknya tidak segera ke sini? Oh, ia lupa jika neneknya mati secara sadis, sementara sang kakek ...

Aoyuki mendadak terduduk di ranjang pasiennya dengan napas yang terengah-engah panik, bahkan nampak akan menangis sesaat menatap sang perawat yang sedang mengurus keperluan medisnya ini.

“A-ada apa?” Sang perawat kebingungan pun berusaha menenangkan Aoyuki dengan merengkuh bahunya.

Setitik air mata terbentuk di ujung mata Aoyuki saat menatap sang perawat balik. “K-kakek ... ,” ucapnya terbata-bata.

“Kakek? Kau ingin aku menghubungi kakekmu?”

Aoyuki menggeleng cepat. “A-aku membunuhnya.”

Sang P tercengang tak percaya. Mungkin efek dari sadarnya Aoyuki dari koma.

“A-aku harus mati. Aku lepas kendali. A-aku membunuh kakek dengan kekuatanku sendiri ....” Aoyuki pun terisak.

Sang perawat menggelengkan kepala. “Tenang Nona Tsukihana, itu semua pasti efek dari komamu.”

“Aku benar-benar membunuh kakek malam itu!” jerit Aoyuki frustasi dengan tangis bahkan mencengkeram rambutnya sendiri. “Aku ... Aku ... !”

Ah, ya, pikirannya kembali berkelana ke malam di mana kediaman baru bersama kakeknya—setelah sang nenek meninggal menjadikan tempat lamanya tak lagi aman—ternyata juga diserang oleh musuh.

Malam di mana ia hampir terlelap segera dibawa lari kembali oleh sang kakek untuk diselamatkan terlebih dahulu. Dan ia ingat jelas bagaimana sang kakek tertembak di perut. Memaksanya untuk pergi lebih dulu. Tentu saja Aoyuki tak bisa melakukan itu.

Panik dan ketakutannya menjadi satu saat berusaha menyelamatkan sang kakek sebelum musuh datang yang membuatnya berakhir menyaksikan pertikaian sengit kakeknya yang sekarat dengan musuhnya.

Benar-benar sekarat seolah sang kakek akan mati kapan saja.

Ia yang gemetar dan hanya tujuh belas tahun itu pun menjerit histeris, hingga membuat kekuatan es-nya lepas kendali yang mulai menyerang tak beraturan sana dan sini.

Namun, di saat seperti itu es-nya mampu mengusir para musuh, meski sebenarnya mereka kabur. Meski begitu ia tak bisa berhenti, walau ia tahu dan melihat sendiri jika para musuh telah kabur.

Hingga akhirnya sang kakek pun tertusuk balok tajam es-nya. Ia membunuhnya.

Tidak, dia ingat, dia ingat bahwa sang kakeklah yang membiarkan dirinya tertikam oleh mata es-nya untuk menghentikannya.

Ah, sekarang ia mengerti mengapa sang kakek begitu memaksanya untuk lari dan dilindungi agar tak lepas kendali, karena jika begitu dia tak akan berhenti sebelum ada yang mati atau kekuatannya akan membunuh dirinya sendiri.

Ya, tidak, itu tak membuatnya lepas dari kejahatan bahwa ia telah membunuh kakeknya sendiri.

“Tidak ... , tidak ... , tidak ... !” Aoyuki menjerit sembari terisak.

“N-nona—”

“Aoshi ... !” Kei masuk (mendobrak) tiba-tiba membuat atensi sang perawat segera teralih padanya.

Kei, Haru, dan Genzuki segera masuk dan menghampiri Aoyuki, terlebih Kei.

“A-ada apa dengannya?” tanya Kei pada sang perawat.

Sang perawat menggelengkan kepala dengan wajah khawatir dan sedih. “D-dia mulai menjadi frustasi sejak tersadar dari komanya, terus menggumamkan ia membunuh kakeknya yang mungkin hanya efek dari koma—”

“Diam!” jerit Aoyuki membuat satu ruangan terkejut dan terdiam. Isakannya semakin keras dan pedih.

Sementara Kei terbelalak tak percaya mendengar penjelasan sang perawat. Tak mengangkat Aoyuki rupanya mengalami tekanan emosi yang luar biasa.

“H-haruskah kita melakukan sesuatu sebelum ia menyakiti dirinya sendiri?” Khawatir Genzuki.

Kei meraih tangan Aoyuki dengan tangan lainnya yang tak mengalami cedera. “Hei, Aoshi! Hey!” panggilnya dengan tegas dan khawatir sembari berusaha menatap mata ke mata dengan Aoyuki.

Aoyuki yang berhenti tantrum sesaat menangkap manik mata biru cerah Kei pun terdiam dengan air mata yang masih berlinang di pipi.

Oh, bukankah dia kakak kelas yang ia lihat di saat komanya tadi?

Oh, dia tidak mati setelah sentuhannya tadi?

Justru ... hidup?

Namun, kenapa ia juga padahal ia ingin sekali mati?

“Kenapa ... Kenapa kau mencoba menyelematkanku!?” teriak Aoyuki dengan tangis yang masih tak berhenti.

Kei hanya tersentak sedikit, tetapi terus mendengarkan Aoyuki sembari tetap menatap matanya seolah tanpa kedip.

“Kenapa kau mencoba menyelematkanku! Aku ingin mati! Aku tak butuh hidup! Aku seharusnya mati! Aku—”

“Aku juga ingin mati!” gertak Kei yang juga berusaha menahan Aoyuki untuk tak tantrum menyakiti dirinya sendiri dengan mengenggam erat pergelangan tangan Aoyuki meski satu tangan saja.

Aoyuki terdiam, tak terkecuali Haru dan Genzuki di sana.

Kei menggertakkan giginya. “Aku juga ingin mati, kau tahu!? Tapi ... ” Kei jeda sejenak, wajahnya mengernyit sedih.

... Tapi tak adil rasanya jika aku ingin mati dan memintamu untuk hidup, 'kan?

Kau tahu itu, 'kan?” lanjutnya sembari menatap Aoyuki dalam dan semakin sedih seolah memohon ini.

Aoyuki terus diam sembari menatap Kei balik yang masih dengan air mata berlinang di pipinya. Kata-kata sang kakak kelas tersebut masuk begitu dalam dalam dirinya. Namun, tetap saja ...

” ... Aku ini ... monster .... Aku tak punya siapa-siapa karena 'aku'. Aku tak mau membunuh orang lagi ... Kumohon, biarkan aku—”

“Kau benar, kau tak punya siapa-siapa lagi. Aku juga tak tahu siapa kau dan apa yang kau hadapi ... ,” ucap Kei lembut dan tetap tegas.

“Meski begitu ... ” Kei perlahan merengkuh Aoyuki, memeluknya. “Aku akan melindungimu. Aku ingin melindungimu ... “

... Aku tak berusaha menjadi pahlawanmu, tapi aku tak akan membiarkanmu mati dalam kesedihan dan rasa sakitmu.”

Aoyuki terbelalak. Ini sakit, tetapi juga hangat.

” ... Senpai ....” Aoyuki kembali terisak haru dan sakit sembari membalas pelukan Kei.

Kei mendekap Aoyuki dengan satu tangannya tersebut semakin erat.

” ... Tolong hidup.”

” ... Apakah kau juga akan hidup ... ?”

” ... Ya,” jawab Kei sedikit menitikkan air mata.

Ternyata hidup tak seburuk itu. 

” ... Jangan pergi ....”

Thank you for reading. Kamis, 07 November 2024. First published at Wattpad.

If The World Ends Today: Don't Let Go. Anaxtasia.

“Apakah tidak ada di antara orang-orangmu yang ahli dalam es juga? Apakah kau benar-benar yang satu-satunya?”

“Kau datang untuk meminta bantuan padaku, orang-orangku tak ada hubungannya dalam pembicaraan kita.”

“Targetnya di sini adalah kau! Tidakkah kau mendengarkanku!?”

“Bukankah ini berarti masalahku?”

“Kau-!”

Nagao Kei tak suka cara berpikir dan idealis Tsukihana Aoyuki, seorang permaisuri yang kaku, dingin, dan memaksakan diri. Idealisnya yang membuatnya melukai dirinya sendiri pun kerap disalahpahami, karena ia yang tak banyak berekspresi dan hanya membuka diri sebatas permukaan pada orang lain.

Ia tak habis pikir manusia macam apa yang mampu dan mau menahan diri dan bahkan menumpuk emosi dalam waktu yang tak diketahui. Membuat Kei marah dan kesal sendiri.

Tsukihana Aoyuki tak suka ambisi Nagao Kei, seorang pengusir setan dengan sejuta ekspresi dan canda tawa untuk pekerjaannya yang penuh rintangan dan bahaya untuk dirinya dan orang lain. Maka dari itulah ia tak pernah mau gagal dalam menjalankan misi. Entah karena benar peduli atau agar tak merasakan sakitnya kehilangan dan bersalah jika korban jiwa terjadi.

Ia enggan untuk mengerti orang-orang yang memilih jalan sulit untuk dirinya sendiri. Membuat Aoyuki kesal dan kecewa sendiri.

Kei meninggalkan ruangan dengan kekesalan, enggan melanjutkan diskusi dengan wanita keras kepala yang dikhawatirkannya.

Sementara Aoyuki masih tetap duduk dalam diam, melihat Kei yang meninggalkan ruangan sembari memikirkan bagaimana ia tak menggagalkan misi bantuannya.

Kaida Haru dan Genzuki Tojiro memandang satu sama lain dengan ekspresi yang sama-sama tidak enak di wajah masing-masing.

“Sekarang bagaimana?” ucap Haru setengah berbisik.

Genzuki hanya menghela napas. “Tak ada cara lain, kita tunda saja diskusi ini terlebih dahulu.”

Haru mengangguk.

” ... Kuharap tak terjadi sesuatu yang buruk.”

Sudah sekitar dua setengah jam Kei keluar dan menjauh dari kastil es Aoyuki. Menenangkan pikiran dan perasaannya yang campur aduk dari argumennya dengan sang permaisuri meski cukup sulit.

Kei menghela napas dan berdiri, mengangkat kaki kembali ke kastil es Aoyuki meski belum sepenuhnya membaik. Setidaknya beruntung sosok permaisuri itu bermain cukup bagus dalam hatinya yang membuatnya merasa bersalah dengan kekanak-kanakan seperti ini. Ia pun memantapkan hati dan berjalan kembali ke kastil es Aoyuki.

Namun, baru beberapa langkah jauhnya ia dari tempat semula, Kei merasakan langit dan bumi bergemuruh, berguncang seperti akan runtuh. Ia berusaha menjaga keseimbangan sembari menatap langit yang benar-benar seperti akan jatuh.

Mata Kei melebar tak percaya. “Kiamat...!?” Tanpa berpikir panjang lagi pun dia segera berlari ke kastil es Aoyuki, meski kesusahan karena guncangan langit dan bumi di saat bersamaan.

“Aoshi!” Kei berteriak sembari melihat sekeliling kastil es yang mana sebagian telah berjatuhan dan menjadi keping.

“Kei/Kei-kun!”

Kei segera menoleh seketika mendengar teriakan dua temannya tersebut segera menghampiri mereka.

“Genzuki! Haru! Bagaimana dengan Aoshi?!” Suara Kei masih terdengar tergesa-gesa.

“Aah! Pergi saja selamatkan dia! Sebentar lagi tidak akan ada yang tersisa, dia masih sempatnya memikirkan keadaan rakyatnya!” seru Haru yang sepertinya juga mulai kesal.

Kei mendecih. “Ak-”

“Ya! Pergi saja, Kei-kun,” ucap Genzuki dengan segera.

Kei terdiam sejenak, mengangguk kemudian memeluk kedua temannya. “Kita harus bertemu lagi ... ,” gumamnya yang kemudian berlari pergi.

Haru dan Genzuki hanya tersenyum, berpegangan tangan dan mempasrahkan diri pada keadaan sembari berharap Kei bertemu dengan Aoyuki segera.

“Aoshi!” Kei segera meneriakkan nama sang permaisuri segera mendapatinya hendak meraih tangan salah seorang pria yang merupakan rakyatnya tersebut, sementara bongkahan es dari kastilnya sendiri akan segera menimpanya.

Aoyuki meraih tangan sang pria, tetapi Kei lebih cepat menariknya lebih dulu dan bongkahan es dari kastilnya sendiri pun jatuh dan menimpa apapun yang di bawahnya termasuk sang pria. Aoyuki terkejut, tak percaya.

“Apa yang- Kenapa! Aku-”

“Diamlah!” gertak Kei segera sembari tetap erat mendekap Aoyuki agar tak lepas dan berlari meraih rakyatnya lagi.

Aoyuki tersentak dan terdiam ketika wajah gertakan Kei tepat di depan wajahnya.

“Buka matamu! Ini sudah akhir dunia! Tidak bisakah kau sekali memikirkan dirimu saja!? Sampai kapan kau harus memaksakan dirimu hah!?” Dekapan Kei mengerat, seolah takut Aoyuki lepas dan menghilang. “Sampai kapan aku harus mengkhawatirkanmu!?” Kali ini gertakannya terdengar bergetar, seperti akan menitikkan air mata sembari menatap dalam manik ruby Aoyuki.

Aoyuki terdiam, menutup mata sebelum akhirnya memeluk Kei erat. “Maaf, maafkan aku,” ucapnya. “Sudah cukup, kau sudah cukup berambisi untuk terus menggapaiku ...

” ... And now you do ... “

” ... I see you ... “

” ... Thank you.”

Mata Kei melebar, terenyuh sebelum akhirnya ia mengubur wajahnya di bahu Aoyuki dan mendekapnya erat.

” ... Jangan lepaskan.”

“Tidak akan.”

Langit pun runtuh, bumi pun hancur. Tak ada hari esok dan juga waktu. Tak ada harapan maupun penyesalan. Semuanya berakhir menjadi satu dan begitu saja bersama dengan sosok yang dicinta, setidaknya.

Thank you for reading. Selasa, 29 Oktober 2024